Dalam salah satu percakapan perpisahan dengan murid-murid-Nya, Yesus berkata:

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa. Apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya. (Yohanes 14:12-14)

Ternyata Yesus tidak benar-benar berpisah dengan murid-murid-Nya. Dia tetap akan melakukan apa yang diminta oleh murid-murid-Nya. Tentu bukan sembarang permintaan. Tetapi permintaan yang terkait dengan misi untuk melanjutkan karya kasih dan pembaruan nilai-nilai hidup yang sudah dimulai Yesus.

Man handing bread to elderly woman in crowded rustic room.
Gambaran sosok Stefanus melakukan pelayanan. Dibuat oleh AI.

Stefanus adalah salah satu pengikut Yesus yang berdedikasi melanjutkan misi karya kasih dan pembaruan yang Yesus amanatkan. Kitab Kisah Para Rasul mencatat misi yang diembannya memberi manfaat besar bagi orang miskin dan yang membutuhkan pertolongan. Tetapi ia mengalami penolakan hebat. Seperti Yesus, ia difitnah dan menempuh pengadilan yang tidak adil. Stefanus akhirnya divonis hukuman mati menurut tata cara agama Yahudi dengan alasan menodai agama.

Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal. (Kisah Para Rasul 7:59-60)

Apa yang diminta oleh Stefanus dalam doanya ini menunjukkan bahwa dia sungguh telah melakukan pekerjaan yang Yesus lakukan sebelumnya. Nubuat Yesus terbukti. Stefanus menjadi murid Yesus yang menyatakan kasih yang nyata kepada orang yang membutuhkan. Stefanus menjadi murid Yesus yang mendoakan dan mengampuni musuh-musuhnya.

Kepada setiap pengikut Kristus, penulis 1 Petrus menasihati:

Datanglah kepada Dia, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. (1 Petrus 2:4)

Kelihatannya Stefanus memilih itu. Memilih datang kepada Kristus yang digambarkan sebagai “sang batu hidup” yang dibuang manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Tepatlah apa yang dipilihnya ini sesuai dengan namanya. “Stephanos” atau “Mahkota”. Ia menyerahkan nyawanya untuk menerima mahkota kemuliaan seperti Tuhan yang dicintainya. Sebuah pilihan cinta yang nyata. Untuk Allah dan sesama. Apa pun akibatnya.

Terinspirasi dari Kisah Para Rasul 7:55-60; Mazmur 31:1-5, 15-16; 1 Petrus 2:2-10; Yohanes 14:1-14

Eksplorasi konten lain dari Suara Sahaja

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca