Ada seorang nabi sezaman dan sepelayanan dengan nabi Yeremia. Namanya nabi Uria bin Semaya. Uria bukan tipe nabi palsu yang menubuatkan apa-apa yang menyenangkan Raja Yoyakim dan stafnya. Nubuat nabi Uria tegas dan keras. Sama dengan apa yang dinubuatkan nabi Yeremia. Mereka bernubuat demi nama TUHAN. Bukan demi kantong, kenyamanan dan kejayaan diri. Ini bukan tindakan populer memang. Aniaya dan nyawa taruhannya. Dikisahkan bahwa Raja Yoyakim dan stafnya mencoba menghentikan suara kenabian Uria.

Mereka mengambil Uria dari Mesir dan membawanya kepada Raja Yoyakim. Raja menyuruh orang membunuh dia dengan pedang dan melemparkan mayatnya ke pekuburan rakyat biasa. (Yeremia 26:23)

Bagaimana dengan nasib nabi Yeremia? Ternyata Allah masih mengizinkannya melanjutkan perjuangan kenabiannya.

Tetapi, Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dihukum mati. (Yeremia 26:24)

Menyuarakan apa yang benar dan mendatangkan kebaikan sebagaimana yang dikehendaki Allah memang acap kali berujung pada pertentangan. Kadang seolah-olah dapat dibuat senyap. Tetapi sejatinya tidak akan pernah dapat dihentikan. Sebab akan selalu ada pribadi-pribadi dalam sejarah seperti Ahikam bin Safan, yang walaupun tidak berjuang secara langsung, berkenan menjadi pendukung perjuangan.

Crowd with signs debating tradition and renewal in an outdoor town setting
A man speaks to a crowd divided over preserving tradition versus embracing renewal.

Sejarah berulang. Yesus dikisahkan juga mengalami pertentangan dan hambatan para pemuka Yahudi. Modelnya tidak jauh beda dengan apa yang dialami nabi Uria dan nabi Yeremia. Sepertinya orang-orang yang menentang Yesus lebih memilih mencari kemuliaan diri dan mengabaikan firman Allah. Yesus menegaskan kepada para penentang-Nya bahwa menolak apa yang disampaikan dan dilakukan-Nya sama saja dengan mengabaikan kehadiran Allah dan firman-Nya. Dia berkata:

..”Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. (Yohanes 8:54-55)

Ketimbang bertobat dan menyadari kekeliruan,

.. mereka mengambil batu untuk melempari Dia, tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yohanes 8:59)

Apa yang diperjuangkan Yesus tetap berlanjut. Belum saat-Nya pada momen itu. Walaupun nyawa-Nya pada akhirnya diserahkan pada Allah Bapa-Nya di kayu salib. Namun salib pun tidak mampu menghentikan-Nya. Apa yang diperjuangkan Yesus terus berlanjut. Perjuangan-Nya adalah perjuangan pemuliaan Allah, firman-Nya dan kasih-Nya yang hendak membarui dunia ini.

Tidak populer, tidak mudah, dibenci, ditentang, dianiaya bahkan taruhannya nyawa. Demikianlah dialami oleh pribadi-pribadi yang berjuang di jalan pembaruan nilai-nilai. Tetapi pun demikian, apa yang diutarakan Daud di bawah ini, boleh tetap menjadi doa dari hamba-hamba Allah, yang masih tetap berjuang di jalan pembaruan nilai-nilai:

Nasibku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh yang mengejar aku! Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu! (Mazmur 31:16-17)

Terinsipirasi dari Mazmur 31:1-5, 16-17; Yeremia 26:20-24; Yohanes 8:48-59