Bersedia didekati Allah sama dengan bersedia didekati oleh kebaikan sejati. Kesediaan untuk didekati itu memang membutuhkan kepekaan rohani. Sebab kecenderungan jelek kita adalah seperti cerita Adam dan Hawa pada saat selesai makan buah yang dilarang Allah dan kemudian “dicari” Allah. Acap kali kita lebih memilih menyembunyikan diri dan menjauh dari kebaikan dan didikan yang hendak diberikan-Nya.
Cara kita menghayati siapa Allah itu dan apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan-Nya bagi kita akan memengaruhi jarak kedekatan kita kepada-Nya. Lucunya, acap kali kita beranggapan dapat menjauhkan diri dari-Nya. Padahal, kemanakah kita dapat pergi menjauhi pandangan-Nya?
Oleh sebab itu, ketimbang menjauhi-Nya, lebih baik mengakui bahwa kuasa kehadiran Allah itu bak matahari, yang terang sinarnya, panasnya menguasai bumi ini. Lebih baik mengakui bahwa Allah saja yang terbukti melindungi kita dari kecenderungan diri kita untuk menyakiti diri sendiri dan orang lain karena kebodohan dosa kita. Dengan pengakuan-pengakuan itu, kita pasti mengalami hadirat-Nya, kasih-Nya, kebaikan-Nya yang merengkuh dan menuntun dalam ziarah hidup kita yang tidak mudah ini.
Engkau menyimak dan mengasihi kami ya Allah. Apa yang baik telah Engkau sediakan bagi kami yang selalu membutuhkan bimbingan dan pertolongan. Dekaplah pikiran dan hati kami, supaya perilaku hidup kami menyatakan betapa dekat-Nya Engkau dengan kami. Amin.
