Ingatan hidup akan selalu berlimpah dengan nama-nama. Nama kita, nama dia, nama mereka, nama barang dan seabrek nama lainnya. Di balik setiap nama tersirat harapan baik. Karena ingat nama, kejengkelan menyergap dan berkuasa. Melalui nama, kita mengenal dan dikenal. Tanpa nama realita dipenuhi tanda tanya.

Bicara soal nama, rasanya ada yang spesial dengan nama Tuhan dalam pengajaran Alkitab. Mengawali 10 hukum kasih, larangan untuk menyebut nama Tuhan dengan sembarangan, masuk dalam empat serangkai hukum-hukum ungkapan cinta kasih dan pengenalan yang takjub dan hormat kepada Allah melampaui ilah-ilah lain yang berebut menggoda hati umat-Nya. Enam sisanya, adalah rangkaian hukum sebagai bentuk ungkapan cinta kasih kepada-Nya yang ditunjukkan kepada sesama ciptaan-Nya.
Rupanya nama Allah itu kudus, spesial, karena tersirat cinta. Cinta yang besar dan amat cemburu. Dia tidak ingin kita berjalan sendirian hanya untuk tersesat ego jumawa dan mati cinta karena nelangsa.
Jika demikian tidak rumit untuk mendapatkan alasan mengapa Malaikat memesankan Bayi dalam palungan yang terbalut lampin itu dinamai Yesus. Yehosua. Yosua. Allah menyelamatkan. Karena bukankah segenap hidup dan karya Yesus membuktikan Siapa Allah itu sebenarnya. Nama-Nya ternyata bukan sekadar deretan aksara. Nama-Nya adalah cinta yang merupa dan berbelarasa.
Maka biarlah Nama-Nya menjadi awal dari setiap harapan baik kita tahun ini. Sebab melaluinya kita dijauhkan dari mati cinta dan jumawa hampa.
Mengawali semua harapan baik kami di tahun yang baru ini ya Allah, nama-Mu akan selalu menjadi yang utama. Peliharalah kami dengan berkat, kemurahan, kebaikan dan kasih-Mu yang memberi damai itu, sehingga kami tidak takabur atau nelangsa. Amin.
