Kabar yang baik tidak selalu harus enak didengar telinga dan nyaman di hati. Kadang, jika tujuannya adalah untuk mengubah sifat diri yang jelek demi kebaikan sesama, kabar baik dapat mewujud dalam bentuk nasihat yang tegas dan pedas. Namun, jika kita cukup rendah hati untuk menyambutnya, apa yang sungguh-sungguh baik sungguh tidak pernah jauh.
Adalah mudah untuk kelihatan baik. Apalagi jika upaya untuk kelihatan baik itu didukung oleh pengaruh, status, nama besar yang mengelilingi diri. Tetapi apa yang kelihatan baik biasanya semu saja. Sebab kebaikan yang tidak berasal dari hati yang tulus dan hanya untuk mencari impresi orang lain tidak ubahnya seperti gaung suara di dalam gua yang hanya memantul kembali kepada diri sendiri saja. Sebaliknya, kebaikan yang murni, manakala dinyatakan dengan ketulusan, akan menetap dalam diri orang lain dan memantul dalam bentuk kebaikan kepada lebih banyak orang lagi.

Kebaikan yang murni muncul dari hati yang murni. Dan hati yang murni ada karena kesediaan diri untuk menyambut orang-orang yang memberikan nasihat yang tegas bagi diri untuk menanggalkan apa-apa yang jahat dan tidak membangun kehidupan. Dalam proses pemutakhiran nilai-nilai diri itu, kita mengimani ada kuasa suci yang menguasai diri kita. Kuasa yang sungguh menjadi kabar baik yang akan mengubahkan kehidupan.
Kami sambut kabar baik yang akan memurnikan hati kami ya Allah. Dengan kekuatan Roh-Mu yang Kudus, hati kami akan tergerak oleh belas kasihan untuk menyatakan kasih bagi sesama ciptaan, mengikuti teladan anak-Mu. Amin