Bersalah tetapi tidak binasa

Bersalah itu dosa. Tetapi bersalah belum tentu binasa. Biasanya yang bersalah dan binasa itu adalah orang-orang yang tidak mau mengakui kesalahannya. Sebab tidak akan pernah ada orang yang dapat melawan kebenaran. Apalagi kebenaran yang Allah tegaskan. Namun, orang-orang yang menyadari kesalahannya lantas sudi, tulus, tunduk pada kebenaran yang mendatangkan hidup, selamat dari kebinasaan.

Nabi Yesaya, Rasul Petrus dan Rasul Paulus bukanlah orang-orang yang sempurna. Kitab Suci mencatat dengan jelas pengakuan diri tentang ketidaksempurnaan mereka. Dalam ketidaksempurnaan, mereka dijumpai Allah yang Maha Sempurna. Allah yang dalam kemahasempurnaan-Nya justru malah memberikan kesempatan baru kepada mereka yang tidak sempurna itu, ikut terlibat dalam misi-Nya. Setiap keunikan dan kemampuan yang mereka miliki mendapat makna yang baru. Mereka menjadi “Nabi”, “Penjala Manusia”, “Rasul”.

Kerendahan hati adalah lahan subur bagi limpahan benih kasih anugerah pengampunan Allah. Dalam pertolongan Roh Kudus, benih anugerah itu bertumbuh dan berkembang, mewujud dalam kesediaan diri ikut bersama Allah melakukan perubahan-perubahan terkait tata nilai hidup diri sendiri dan orang-orang sekitar yang terinspirasi.

Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.

Mazmur 138:7

Terinspirasi dari Yesaya 6:1-13; Mazmur 138; 1 Korintus 15:1-11; Lukas 5:1-11