Relasi dalam perkawinan dipandang oleh Kitab Suci sebagai relasi yang dijalin karena karunia ilahi. Dua orang yang saling mengikat janji mendapatkan karunia dalam saling memberi kebaikan satu sama lain karena cinta yang sanggup berkorban. Kebahagiaan adalah keniscayaan jika satu sama lain tidak lagi hidup demi dirinya sendiri saja.
Banyak contoh dalam Kitab Suci yang menggambarkan relasi Allah dengan umat-Nya sebagai relasi perkawinan. Kesetiaan menjadi penanda ikatan kasih yang berbuahkan pada kebaikan yang dialami pribadi-pribadi yang saling mengikat janji. Sebaliknya, ketidaksetiaan akan menimbulkan permasalahan yang berujung pada kesedihan.

Indahnya kuasa kasih ialah pada saat ia menjadi kuasa yang sanggup memberikan kesempatan baru kala ikatan janji tidak terbukti kemurniannya. Kasih yang sedemikian adalah kasih yang suci dari Allah sendiri. Kasih yang dapat juga mengalir kepada setiap pribadi yang mau menerimanya dan mengalirkannya kepada pribadi lain yang juga bersedia menghidupinya.
… Tetapi, setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
(1 Korintus 7:7)
Terinspirasi dari Mazmur 36:5-10; Yeremia 3:19-25; 1 Korintus 7:1-7
