Allah adalah kasih. Dia amat baik. Ini yang diimani setiap orang yang percaya kepada-Nya. Namun acap kali sikap yang amat baik dan bersahabat dari Allah itu dipandang remeh. Allah yang serba maha itu kadang ditempatkan di bawah. Keinginan dan kehendak diri sendiri menyabotase kebaikan Allah dengan menunjukkan sikap tidak serius dalam menerima anugerah-Nya.
Melalui Yesaya, TUHAN mempersoalkan ketidakseriusan Israel. Mereka begitu mudahnya mengagungkan kasih TUHAN yang menopang kehidupan, tetapi pada saat yang sama masih tetap tinggal di dalam kejahatan. Bak hubungan suami isteri atau orang tua dan anak, relasi kasih yang ditunjukkan amat sepihak dan penuh pemuasan keinginan diri sendiri saja.

Dalam salah satu kisah perjalanan Petrus dan Yohanes dijumpai kehadiran sosok Simon. Seorang yang tertarik dengan hal-hal supranatural. Simon yang namanya mirip dengan salah seorang murid Yesus ini kagum pada kuasa ajaib yang diberikan Allah kepada rasul-rasul. Namun, ia tidak mengagungkan Allah dan mengikuti kehendak-Nya. Simon malah menawarkan uang kepada Petrus dan Yohanes, supaya dapat memiliki kuasa ajaib yang sama. Sikapnya ini dihardik oleh Petrus dan Yohanes. Sebab menunjukkan hati yang iri dan diperbudak oleh kejahatan.
Maka ajakan Pemazmur untuk memiliki kekaguman yang serius dan penuh hormat kepada Allah sungguh bermakna. Pemazmur berkata:
Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.
(Mazmur 36:10)
Terinspirasi dari Mazmur 36:6-11; Yeremia 3:1-5; Kisah Para Rasul 8:18-24
