Kepada Israel, umat yang telah dijadikan dan dibentuk-Nya, TUHAN mengungkapkan janji setia-Nya. Akan ada masa-masa mereka harus “mengarungi air kesukaran dalam hidup”. Tetapi mereka tidak akan tenggelam dalam kesukaran-kesukaran itu, karena penyertaan-Nya. Ada masanya mereka “melalui api percobaan berat dalam hidup”. Tetapi mereka tidak hangus dalam celaka, karena TUHAN, Allah mereka menjadi Penyelamat.
Begitu banyak orang merindukan pembaruan makna rohani pada zaman Yohanes Pembaptis memulai karyanya. Herodes yang korup dan penjajah Roma telah nyata-nyata memberikan kesukaran dan percobaan tersendiri. Tetapi dengan hadirnya Yohanes yang berani menyuarakan suara pembaruan hidup, kerinduan mereka untuk memulai baru hidup sesuai janji penyelamatan Allah seakan terobati. Mereka mendatangi Yohanes untuk dibaptis dan menyangka Yohanes adalah Raja Penyelamat, Sang Mesias yang dijanjikan Allah.
Tetapi ternyata bukan Yohanes yang menjadi Raja Penyelamat. Dengan rendah hati Yohanes menunjuk kepada Yesus. Bagi Yohanes, ia hanya pembuka jalan saja. Namun jalan yang harus ditempuh akan dipimpin oleh Yesus. “Baptisan oleh air” yang dilakukan oleh Yohanes seolah menjadi penggerak penyadaran. Tetapi “baptisan oleh Roh Kudus dan api”, akan menjadi tanda penyertaan yang membuat pikiran dan hati yang keras menjadi lembut untuk berjalan dalam penyelamatan Allah dengan kepemimpinan Yesus Kristus serta kuasa Roh Kudus.
Di mata Yohanes, Yesus adalah Mesias, Kristus, Raja Penyelamat yang akan membimbing Israel dan juga banyak bangsa-bangsa di dunia ini yang percaya kepada Yesus. Para pemercaya itu akan menjadi bijak dalam memilih tindakan yang berguna bagi hidup. Seperti sekam yang tak berguna berakhir lenyap, maka Kristus sanggup membimbing orang yang percaya kepada-Nya untuk menyingkirkan sikap hidup yang tidak berguna. Dalam kepemimpinan Kristus, bak gandum yang berguna dalam menyokong kehidupan, orang yang percaya kepada-Nya akan dilengkapi dengan Roh Kudus, yaitu Roh Allah sendiri dalam melakukan karya-karya yang merawat kehidupan di dunia ini sebagai anak-anak Allah.

Semua ini pasti terwujud, karena Yesus solider dalam memimpin. Ia memilih untuk mengalami sendiri proses suci ini sebagai Anak yang terkasih dan berkenan bagi Allah. Lukas mencatat:
Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam wujud serupa burung merpati ke atas-Nya. Terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”
(Lukas 3:21-22)
Terinspirasi dari Yesaya 43:1-7; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 8:14-17; Lukas 3:15-17, 21-22
