Terinspirasi dari Mazmur 29; Pengkhotbah 2:1-11; 1 Korintus 2:1-10
Ada yang lebih besar ketimbang kesenangan dan kebanggaan diri. Sebagai seorang yang menganggap dirinya lebih besar dari siapa pun yang pernah tinggal di Yerusalem, bahkan dengan hikmat yang unggul, Sang Pemikir dalam kitab Pengkhotbah mencermati bahwa apa yang sudah diraihnya dalam hidup pada akhirnya seperti “mengejar angin saja”.
Mungkinkah dengan ungkapan ini ia hendak mengatakan bahwa ada yang lebih besar dari apa yang sudah ia alami dan capai selama ini? Apakah ia hendak mengajak pembacanya untuk memikirkan tentang realitas rohani?

Banyak orang menganggap hidup spiritual atau rohani melulu berangkat dari hal-hal gaib tak kasat mata. Padahal ada banyak perenungan rohani justru bermula dari upaya mencermati realitas hidup senyata-nyatanya.
Pemazmur misalnya, menghayati tiupan angin yang keras sebagai “Suara TUHAN”. Bermula dari mencermati kenyataan daya yang mampu dihasilkan angin serta akibat yang ditimbulkannya, Pemazmur mengungkapkan madah tentang kenyataan keberadaan kuasa ilahi yang patut dipuji dan diagungkan dalam komunitasnya.
Begitu juga dengan Paulus. Sebagai seorang yang hidupnya berubah banyak karena peristiwa perjumpaan ajaib dengan Kristus yang bangkit, ia mengungkapkan pada gereja di Korintus bahwa pemberitaannya malah justru berpijak pada realitas nyata, yaitu bahwa Yesus Kristus sudah mati disalib. Namun, dalam mencermati realitas nyata yang pahit itu, Paulus mengenali peran Roh Allah yang memampukannya menilai kembali peristiwa pahit itu dengan makna baru yang sanggup mengubahkan hidupnya.
Hidup yang sudah diubahkan itu pada akhirnya memang adalah hidup yang dijalani senyata-nyatanya di dunia ini. Namun, hidup itu “berbeda”. Sebab, dalam kata-kata Paulus, ada “kebijaksanaan dari Allah” yang melingkupi dirinya, dan juga dalam diri setiap orang-orang yang mengasihi Allah, untuk menemukan makna yang luhur bagi hidup karena peristiwa Kristus.
Kata Paulus:
Kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. (1 Korintus 2:10)
