Terinspirasi dari Mazmur 29, Pengkhotbah 1:1-11, 1 Korintus 1:18-31
Bagi Pemazmur, angin yang bertiup kencang di tengah tatanan alam raya bukan sekadar angin. Dalam kedahsyatan angin, Pemazmur mengingat betapa berkuasanya Sang Pencipta alam semesta. Maka semua daya upaya manusia tunduk pada kenyataan kepemimpinan TUHAN sebagai Raja. Pemazmur berharap, kuasa TUHAN yang sedemikian pun sanggup dialami oleh umat-Nya, menjadi kekuatan yang membuat mereka sejahtera.
Sang Pemikir dalam kitab Pengkhotbah pun mencermati perilaku semesta. Sebagai seorang yang terlihat skeptis dan pesimis, Sang Pemikir seolah-olah secara tidak langsung hendak mengatakan bahwa manusia itu kecil jika dibandingkan alam semesta. Entah apakah ia hendak membuat pembacanya menjadi ikut-ikutan pesimis, atau realistis? Adakah pesan moral tertentu dalam refleksi pribadinya ini?

Pada akhirnya yang namanya menjadi bijaksana itu bukan soal tahu ini itu atau punya pemikiran mendalam yang hebat-hebat. Bagi Paulus misalnya, menjadi bijaksana itu diuji dari perilaku hidup. Bagaimana memberi makna bagi diri sendiri, bagaimana berelasi dengan orang lain. Paulus mengambil contoh salib Kristus. Menurutnya, demikianlah cara Allah menunjukkan kuasa-Nya. Kuasa kasih. Kuasa yang melalui peristiwa berkorban seorang Anak Manusia, telah ajaib memperbaiki hati dan pikiran manusia yang percaya kepada-Nya. Pementingan diri yang merupakan biang dosa, akan ditumbangkan.
Dengan bijak Paulus berujar:
Sebab, yang bodoh dari Allah lebih bijaksana daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia. (1 Korintus 1:25)
