Terinspirasi dari 1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
Hana, ibunda dari Samuel kecil yang kelak menjadi Imam sekaligus Nabi yang mengawali masa kerajaan Israel, adalah ibu yang mengasihi Allah dan bijaksana mendidik anaknya. Penulis kitab Samuel mengisahkan:
Tahun demi tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu untuknya, ketika ia pergi bersama suaminya mempersembahkan kurban tahunan. (1 Samuel 2:19)
Dengan membawa jubah bagi Samuel, sejak dini, Samuel diajak mengenali identitasnya sebagai seorang anak yang diperlengkapi Tuhan untuk ikut serta dalam karya penyelamatan Allah bagi bangsa Israel. Mungkin Hana tahu bahwa usia muda adalah kesempatan emas bagi seorang pribadi untuk terus menerus diingatkan betapa baiknya Tuhan itu. Seperti Pemazmur menuliskan:
.. hai taruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! Hendaklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab hanya nama-Nya yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit. (Mazmur 148:12-13)
Setiap pribadi terus bertumbuh dan berkembang seiring pertambahan usia. Fisik, pengertian, perasaan, perkataan, dan tingkah laku. Seberapa jauh pertumbuhan dan perkembangan seorang, dapat dilihat antara lain dengan keberaniannya mempertanyakan sesuatu sekaligus kecerdasan dalam memilih jawaban, yang akan membuat hidup pribadi dan komunitas semakin berkualitas.
Penginjil Lukas mencatat bahwa Yesus sungguh memanfaatkan setiap kesempatan yang dihadirkan kepada-Nya dalam menumbuhkembangkan keberanian bertanya dan kecerdasan menjawab. Dalam suatu kesempatan ibadah rutin tahunan di bait suci,
… Ia sedang duduk di tengah-tengah para guru agama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan jawaban-jawaban yang diberikan-Nya. (Lukas 2:46-47)
Kelak, momen berlatih menumbuhkembangkan hikmat ini sungguh sangat berperan dalam momen melawan Iblis dalam pencobaan yang Dia hadapi di gurun, juga dalam setiap dialog dengan pribadi yang Yesus jumpai dalam perjalanan pekabaran Injil Kerajaan Allah menuju salib dan kebangkitan.

Maka tidak heran jika Gereja di Kolose diingatkan untuk menjadikan perkataan Kristus tinggal dalam masing-masing pribadi. Sebab salah satu tanda iman bertumbuh terjadi saat seorang pribadi cermat untuk saling mengajar, menegur, memberi pertanyaan, memilih jawaban. Sambil terus menyadari bahwa setiap pertanyaan dan jawaban yang diungkapkan menjadi salah satu cara Allah berkuasa di dalam hati.
Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. (Kolose 3:16)
