Keajaiban kehidupan

Terinspirasi dari Mazmur 90, Bilangan 17:1-11, 2 Petrus 3:1-18

Musa, abdi Allah itu, sangat realistis mengakui kefanaan manusia. Dalam salah satu doanya dia berkata kepada TUHAN:

Engkau menghanyutkan manusia dalam tidurnya, di pagi hari mereka seperti rumput yang akan binasa, di waktu pagi bersemi dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. (Mazmur 90:5-6)

Namun, dalam kesadaran yang realistis itu, Musa tentu ingat pengalaman ajaib tentang tongkat Harun yang bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam. (Lihat Bilangan 17:8). Tongkat yang dibuat dari kayu yang sudah tercabut dari akarnya, secara ajaib menjadi kayu yang hidup kembali. 

Keajaiban itu bukan sekadar menjadi penanda bahwa suku Lewi dan Harun terpilih untuk menjadi pemimpin rohani bagi Israel belaka. Di balik keajaiban itu ada penanda penting bahwa TUHAN berkuasa memberikan kehidupan dengan kuasa kasih-Nya yang memelihara perjalanan hidup manusia yang fana.

Maka hari-hari kehidupan yang fana tidak lagi diisi tanpa makna dan tanpa arah. Hari-hari kehidupan dengan segala keterbatasan yang ada menjadi hari yang tidak pernah kehilangan kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan. Dalam kuasa kasih-Nya ada kesempatan baru. Dalam anugerah-Nya ada keajaiban kehidupan.

Penulis surat 2 Petrus menasihatkan:

Tuhan tidak lambat menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelambatan, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. (2 Petrus 3:9)