Terinspirasi dari Yeremia 33:14-16, Mazmur 25:1-10, 1 Tesalonika 3:9-13, Lukas 21:25-36
Rasa takut adalah emosi dasar pemberian Allah. Gunanya memicu mekanisme pertahanan diri. Namun, ketakutan yang berlebihan atau yang tidak terkendali berbahaya. Gangguan psikosomatik, buruk dalam mengambil keputusan serta menurunnya kualitas relasi sosial adalah akibat dari ketakutan yang tidak proporsional.

Dikisahkan, Israel utara telah hancur. Israel selatan dalam kepungan Babel. Namun, di tengah situasi menakutkan itu, Allah berfirman melalui nabi Yeremia:
“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji indah yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda. Pada masa itu dan pada waktu itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri. Pada masa itu, Yehuda akan diselamatkan, dan Yerusalem akan hidup tenteram. Dengan inilah orang menamainya: TUHAN keadilan kita! (Yeremia 33:14-16)
Ada yang tidak mudah yang harus dijalani umat Israel. Namun di tengah rasa takut, Allah tetap menegaskan janji pemeliharaan-Nya yang menyelamatkan.
Dalam terang pengharapan bahwa Allah selalu lebih berkuasa ketimbang segala ketakutan yang dapat dialami manusia ini, maka apa yang dijelaskan Yesus mengenai “Kedatangan Anak Manusia” dalam Lukas 21:25-28 bukanlah pesan yang menakutkan.
Bencana alam, bencana sosial, ketidakpastian politik adalah hal biasa yang akan dialami segenap penduduk bumi. Namun, kuasa Kristus jauh lebih besar ketimbang semua yang menakutkan itu. Di tengah suasana yang menakutkan, Yesus menegaskan:
Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan kuasa dan kemuliaan yang besar. (Lukas 21:27)
Para pengikut Kristus diingatkan bahwa Kerajaan Allah ada dalam keseharian hidup yang tidak selalu mudah. Namun dalam situasi yang tidak mudah, apa yang sudah diajarkan dan sudah dimulai Kristus menjadi daya kekuatan yang memampukan mereka untuk tetap berpengharapan. Mereka memegang teguh apa yang sudah dikatakan Kristus sendiri:
Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu (Lukas 21:33)
Ketimbang terjerat dalam ketakutan berlebih, Kristus menasihatkan untuk berjaga-jaga dan berdoa. Dengan kesadaran spiritual yang sehat, rasa takut dikelola menjadi ketakutan yang proporsional. Bukan dalam pelarian diri yang tidak produktif atau khawatir berlebihan.
Maka sikap hidup beriman “sedia payung sebelum hujan” menjadi pilihan yang bijaksana. Seperti pemazmur yang berdoa:
Tuntunlah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. (Mazmur 25:5)
Situasi yang menakutkan dapat terjadi dalam hidup setiap orang. Tetapi memilih untuk tidak takut berlebihan dan tetap bijak, tetap dapat menjadi pilihan. Bukankah demikian makna pengharapan?
Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang,.. (1 Tesalonika 3:12)
Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya. (1 Tesalonika 3:13)
