Menerima ajakan menuju kebaikan

Terinspirasi dari Mazmur 126; Habakuk 3:13-19; Matius 21:28-32

Menuju yang baik butuh proses. Setiap upaya menuju kebaikan, walaupun tidak selalu mudah akan berakhir dalam kebahagiaan. Dalam perenungannya atas upaya berpulih bangsanya dari keterpurukan hidup, Pemazmur menuliskan:

Orang yang pergi dengan menangis sambil membawa kantong benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkas gandumnya.

Mazmur 126:8 TB2-LAI

Upaya menuju kebaikan itu tidak dilakukan sendirian. Dalam iman kepada Allah yang menyelamatkan, ungkapan “sekalipun” akan menjadi penegasan iman yang berani untuk tetap berharap dan berjuang, melampaui segala kemalangan yang dialami. Dalam doanya Habakuk berkata:

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pokok anggur tidak berbuah, dan hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu dalam kandang, aku akan bersukacita di dalam TUHAN, bersorak-sorai di dalam Allah Penyelamatku.

Habakuk 3:17-18 TB2-LAI

Maka penerimaan terhadap ajakan untuk melangkah, bertobat, berpulih, berproses, tidak akan pernah sia-sia. Ajakan itu menjadi seperti cahaya yang menuntun pada jalan yang melegakan.

Photo by Adrien Tutin on Unsplash

Tuhan Yesus pernah menegaskan betapa beruntungnya orang-orang yang mau mendengarkan ajakan Yohanes Pembaptis untuk bertobat. Orang-orang yang mendengar ajakan bertobat itu telah memilih sesuatu yang tidak populer. Tetapi justru itu adalah pilihan yang tepat. Sebab hanya dengan bertobat, orang akan mengalami kepemimpinan yang menyelamatkan dari Allah. Yesus berkata:

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pemungut-pemungut cukai dan pelacur-pelacur mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab, Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

Matius 21:31-32 TB2-LAI