Terinspirasi dari Mazmur 126; Habakuk 3:2-6; Filipi 3:12-16
“Pengharapan” adalah tema yang sering muncul dalam berita Alkitab. Selalu akan ada pilihan penyeimbang di tengah-tengah keadaan yang tidak baik-baik saja. Setiap orang punya kemampuan untuk tetap melihat kebaikan yang belum kentara di tengah upaya yang belum berhasil. Pemazmur menggambarkan sikap berharap itu dalam tuturannya demikian:
Orang yang menabur dengan bercucuran air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
Mazmur 126:5 TB2-LAI

Habakuk membayangkan sikap Allah yang tidak ekstrim. Dalam perjalanan sejarah hidup beriman bangsanya, dia meyakini bahwa didikan Allah memang tegas. Tetapi dalam banyak kejadian pun nyata bahwa semua tindakan Allah dilatarbelakangi oleh kasih-Nya. Dalam satu kesempatan pengalaman didikan Allah bagi bangsanya, Habakuk menuliskan:
TUHAN, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN, kukagumi! Hidupkanlah itu di zaman ini; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!
Habakuk 3:2 TB2-LAI
Pada akhirnya yang dapat ditempuh dalam sikap beriman yang berpengharapan adalah kesediaan diri untuk terus meniti jalan iman dengan cinta. Rasul Paulus memilih pilihan itu. Kepada Gereja di Filipi, Paulus memberi kesaksian tentang imannya begini:
… Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
Filipi 3:13-14 TB2-LAI
