Terinspirasi dari Mazmur 79; Mikha 4:6-13; Wahyu 18:1-10
Putri Sion adalah julukan bagi Yerusalem. Kota ini pernah mengalami kejayaan di bawah pemerintahan Daud. Namun pada zaman Mikha, umat Allah ada dalam suatu masa yang tidak mudah. Serangan dan pendudukan bangsa lain membuat umat menjadi bangsa yang lumpuh. Tetapi pengharapan akan datangnya sebuah era baru ketika pemulihan dari Allah tiba tetap ada. Mikha menyuarakannya:
Adapun engkau, hai Menara Kawanan Domba, hai Bukit Putri Sion, kepadamu akan datang dan akan kembali pemerintahan yang dahulu, kerajaan atas Putri Yerusalem.
Mikha 4:8 TB2-LAI
Babel menjadi tempat yang mengerikan sekaligus menjanjikan bagi umat pada masa pembuangan. Mengerikan karena mereka harus mengalami berbagai tekanan hidup yang nyata. Aniaya fisik, batin dan rohani. Menjanjikan karena, Allah tetap menjadi Allah yang berkuasa atas bangsa-bangsa. Setiap bangsa yang tidak memberlakukan kasih, keadilan dan kebenaran akan mengalami malapetaka dalam didikan tegas-Nya.
Sebutan Babel bukan saja ditujukan kepada pemerintahan Babel pada masa perjanjian lama. Sebutan ini digunakan juga untuk bangsa keji yang penuh hawa nafsu kejahatan karena menindas sesama. Dalam pewahyuan yang diterima Yohanes, sebutan Babel mungkin digunakan untuk pemerintahan kolonial Roma yang bengis kepada gereja. Namun dalam penindasan itu, suara dari surga mengingatkan gereja-Nya demikian:
… “Keluarlah kamu, hai umat-Ku, keluarlah dari dalamnya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.
Wahyu 18:4 TB2-LAI
Gereja yang berada dalam penindasan, diingatkan supaya tidak menggunakan cara-cara yang menindas dalam karyanya bagi dunia.

