Linen halus orang-orang kudus

Terinspirasi dari Mazmur 7; Ester 8:3-17; Wahyu 19:1-9

Tidak selamanya hidup selalu damai. Terkadang perselisihan dapat saja muncul. Benturan antar kepentingan dan kebutuhan menunggu tanggapan mencapai solusi. Pemazmur mengalami itu. Namun dia tidak menanggapi dengan sembarangan. Sebab baginya Allah adalah Hakim yang adil. Dalam bagian ratapannya kepada Allah, dia berharap:

Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar. Engkau yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.

Mazmur 7:10 TB2-LAI

Kisah Ester mengungkap bahwa politik yang berlatarbelakang kebencian dan kejahatan kepada kemanusiaan tidak akan bertahan lama. Kesetaraan dan keadilan yang diperjuangkan dengan kesabaran akan membuahkan hasil pada saatnya. Beruntunglah jika pengaruh-pengaruh yang berada di sekitar kekuasaan tidak didominasi oleh yang mementingkan golongannya semata, tetapi yang menghargai keadilan dan mencintai nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki.

Hubungan antara pengikut Kristus dengan Kristus acap kali digambarkan sebagai hubungan antara mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Kristus yang adalah mempelai laki-laki kelak akan bersekutu selama-lamanya memerintah dalam kerajaan kasih dengan para pengikut-Nya yang adalah mempelai perempuan.

Yohanes yang mendapat penglihatan suci menggambarkan bahwa akan tiba saatnya kelak perbuatan-perbuatan yang benar dari para pengikut Kristus akan menjadi seperti pakaian pesta yang menyemarakkan pesta pernikahan Sang Anak Domba dengan gereja-Nya. Yohanes mencatat:

Kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain linen halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih!” Linen halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.

Wahyu 19:8 TB2-LAI