Bimbingan Allah yang nyata

Terinspirasi dari bacaan Alkitab: Mazmur 95; Keluaran 16:1-8; Kolose 1:15-23

Tempat ibadah untuk mengagungkan Allah luasnya seluas alam semesta. Mengakui betapa berkuasanya Allah dengan melihat apa yang diciptakan-Nya akan membuat semua orang yang hendak beribadah kepadanya tidak pernah dapat berbangga dengan lokasi tempat ibadah yang selama ini digunakan.

Allah tidak pernah dapat dihayati sesempit sosok agung yang perlu diagung-agungkan semata. Sebab dalam kenyataannya, Dia justu selalu bertindak aktif memelihara umat-Nya. Gambaran Allah sebagai Gembala dan umat-Nya sebagai kawanan domba yang dituntun-Nya menegaskan kenyataan ini. Penulis Mazmur mengungkapkan:

Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya, kawanan domba tuntunan tangan-Nya.

Mazmur 95:6-7, TB2-LAI

Tuntunan Allah memang tidak selalu diberikan secara langsung oleh-Nya. Kadang ada orang-orang yang diperkenan oleh Allah untuk membimbing umat-Nya. Tetapi memang tidak mudah menerima bimbingan Allah melalui kehadiran orang lain. Umat Israel misalnya, bersungut-sungut kepada Musa dan Harun sewaktu berada di Padang Gurun Sin. Mereka lapar dan di tempat itu tidak ada makanan. Mereka menanggap bukan Allah yang memimpin mereka. Sebab memang yang terlihat mata hanya Musa dan Harun semata. Allah mengenali kebutuhan umat-Nya. Secara ajaib kemudian mereka makan roti dan daging. Maka Musa mengingatkan supaya mereka memiliki kepekaan spiritual. Musa berkata:

… “Jika memang TUHAN yang memberi kamu daging pada waktu petang dan roti sekenyang-kenyangnya pada waktu pagi, karena TUHAN telah mendengar sungut-sungut yang kamu sampaikan kepada-Nya, siapakah kami ini? Sungut-sungutmu itu bukan kepada kami, tetapi kepada TUHAN!”

Keluaran 16:8, TB2-LAI

Allah berkuasa mengadakan perubahan bagi dunia ini. Alam semesta diciptakan-Nya. Umat-Nya dibimbing-Nya dengan keajaiban. Bahkan melalui Kristus, Allah menyapa manusia dan dunia dengan menghadirkan diri-Nya dalam keterlibatan penuh guna merengkuh dunia yang rapuh demi menikmati kedamaian surga. Penulis surat Kolose menggambarkan Kristus sebagai wujud karya sempurna Allah demikian:

Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib Kristus.

Kolose 1:19-20, TB2-LAI
Photo by Ben Pattinson on Unsplash

Demikianlah bimbingan Allah sudah nyata bagi manusia dan dunia. Dia tidak menghendaki dunia ini hancur karena orang-orang berdosa yang tersesat. Dia menghendaki manusia mengalami damai-Nya. Dia sungguh baik.