Ditempatkan sebagai bawahan

Terinspirasi dari bacaan Alkitab: Mazmur 121; Yesaya 51:4-8; Lukas 7:1-10

Israel pasti banyak belajar dari pengalaman dijajah bangsa lain. Nabi Yesaya menerangkan bahwa pengalaman itu adalah bagian dari didikan Allah karena mereka memilih jalan dengan kekuatan sendiri. Dalam didikan-Nya Allah berbicara melalui Yesaya bahwa Dia bukan sekadar mendidik dengan tegas bangsa-Nya Israel. Tetapi juga supaya melalui perubahan hidup Israel yang sudah sadar dan kembali kepada hukum kasih Allah, mereka menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa lain untuk menjalankan hidup yang benar, baik dan indah sesuai kehendak-Nya. Allah berkata:

Perhatikanlah suara-Ku, hai umat-Ku, dan pasanglah telinga kepada-Ku, hai bangsa-Ku! Sebab, pengajaran akan keluar dari-Ku dan hukum-Ku sebagai terang untuk bangsa-bangsa.

Yesaya 51:4, TB2-LAI

Terlihat bahwa kuasa Allah bukan kuasa yang sifatnya lokal bagi Israel saja. Allah berkuasa atas alam semesta. Dia memiliki rencana yang bukan saja membuat bangsa Israel mengalami kebaikan-Nya, tetapi juga bagi semua bangsa di dunia ini. Israel yang hidupnya dibaharui oleh hukum kasih-Nya akan menjadi menjadi terang untuk bangsa-bangsa.

Photo by R.D. Smith on Unsplash

Penginjil Lukas mengisahkan tentang seorang perwira di Kapernaum yang hambanya sakit. Perwira ini bukan bagian dari bangsa Israel. Namun ia memiliki kepedulian bagi kesejahteraan bangsa Israel. Bukti dari kepedulian perwira ini dapat kita lihat dari kata-kata tua-tua Yahudi (orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin dan dituakan) yang datang kepada Yesus:

“Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.”

Lukas 7:4-5, TB2-LAI

Yesus menuju rumah si perwira itu. Tetapi uniknya, si perwira ini memahami kalau orang Yahudi punya tradisi untuk tidak serta merta berkenan berhubungan dekat atau masuk ke rumah bangsa lain. Ada hukum najis/tahir dalam keyahudian. Maka si perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya menjumpai dan mengatakan kepada Yesus:

…katakan saja sepatah kata, dan hambaku itu akan sembuh. Sebab, aku sendiri orang yang ditempatkan sebagai bawahan, dan dibawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi! maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang! maka ia datang ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini! maka ia mengerjakannya.”

Lukas 7:7-8, TB2-LAI

Menyimak sikap si perwira ini maka secara tidak langsung ia memposisikan dirinya sebagai “bawahan” dari Yesus. Dia percaya apa yang dikatakan Yesus berkuasa. Si perwira ini bukan hanya menghargai tradisi keyahudian yang ia duga dihayati Yesus, tetapi juga percaya bahwa melalui Yesus ada kuasa perubahan hidup yang akan diterimanya.

Sebelumnya dikisahkan,

Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia mengutus beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta Dia datang dan menyembuhkan hambanya.

Lukas 7:3, TB2-LAI

Awalnya si perwira ini sekilas terlihat memposisikan diri “di atas” tua-tua Yahudi. Lalu tua-tua Yahudi meminta Yesus datang menolong perwira ini. Maka sekilas terlihat tua-tua Yahudi memposisikan diri “di atas” Yesus. Tetapi, pada akhirnya melalui apa yang disampaikan perwira ini secara tidak langsung kepada Yesus, perwira ini justru memilih memposisikan diri “di bawah” Yesus. Sebuah sikap iman yang unik, yang membuat Yesus berkomentar:

“Aku berkata kepadamu: Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”

Lukas 7:9, TB2-LAI

Hamba si perwira itu sehat kembali.