Bekal demi kemenangan iman

Terinspirasi dari bacaan Alkitab: Mazmur 32; 1 Raja-Raja 19:1-8; Ibrani 2:10-18

Mengupayakan yang baik memang tidak gampang. Kelihatannya yang berbuat jahat acap kali lebih kuat. Ingin menyerah adalah reaksi wajar. Beriman memang tidak terjadi di ruang hampa. Mengimani kebaikan Allah dan berupaya melanjutkan kebaikan yang sudah diterima kepada orang lain itu terjadi di dunia yang nyata. Dunia dengan nilai-nilai yang tidak selalu sejalan dengan kasih dan kebaikan.

Walaupun acap kali mendapat kekuatan karunia ajaib, Elia, Nabi yang handal bertempur dengan nabi-nabi berhala Baal itu juga mengalami kelemahan batin dan fisik. Indahnya, dalam kisah gumul lunglai Sang Nabi, kitab suci mencatat intervensi suci dari Allah. Lewat perkara biasa, seorang malaikat TUHAN menyediakan roti bakar dan kendi berisi air untuk bekal perjalanan yang masih harus ditempuh. Apa reaksi Sang Nabi?

Ia pun bangun, lalu makan dan minum. Karena makanan itu ia kuat berjalan selama empat puluh hari empat puluh malam sampai ke Horeb, gunung Allah.

1 Raja-Raja 19:8, TB2-LAI
Photo by name_ gravity on Unsplash

Kebugaran spiritual tidak selalu harus diisi dengan perkara-perkara roh yang ajaib. Dalam rencana, kehendak dan pengudusan Allah, hal-hal materi keseharian hidup menjadi makna yang menguatkan langkah kaki untuk terus melangkah dalam pengharapan. Pemeliharaan Allah adalah pemeliharaan yang memampukan dan menguatkan bukan meninabobokan.

Kemenangan Kristus atas pencobaan di padang gurun (Matius 4:1-11) pun boleh menjadi ingatan suci bagi manusia yang sedang bergumul dalam mengupayakan apa yang baik. Kristus mengalami pergumulan berat yang dialami manusia (hawa nafsu, kejayaan, kekuasaan). Dalam kesetiaan-Nya menanggung penderitaan nyata manusia, Dia menang. Maka, nasihat dan firman-Nya untuk mereka yang sedang berjuang melanjutkan kebaikan bukan sekadar cuap-cuap belaka.

Karena Ia sendiri telah menderita ketika dicobai, Ia dapat menolong mereka yang sedang dicobai.

Ibrani 2:18, TB2-LAI