Terinspirasi dari bacaan Alkitab: Kejadian 2:15-17, 3:1-7; Mazmur 32; Roma 5:12-19; Matius 4:1-11
Sosok Iblis dicatat dalam Alkitab. Kehadirannya mencoba mengaburkan dan membatalkan nasihat suci Allah. Iblis selalu memilih melawan Allah. Perkawanan manusia dengan Allah selalu membuatnya iri. Target utama Iblis selalu sama sejak dulu. Mencari kawan untuk melawan Allah. Nasihat Iblis bagi manusia juga tidak ada yang baru. Bagaimana supaya manusia paham, percaya dan bertindak bahwa Allah ada tetapi tidak berkuasa.
Tempat favorit Iblis adalah pikiran dan hati manusia. Kalaupun indera manusia menangkap kehadirannya, tujuan utamanya selalu demi mengelabui pikiran dan hati. Kisah percakapan sosok ular yang dapat berbicara dengan manusia di Taman Eden (Kejadian 2:15-17; 3:1-7) dan percakapan Iblis dengan Yesus di padang gurun (Matius 4:1-11) menguak bagaimana serangan-serangan melawan nasihat Allah dilancarkan. Namun akhir dari kedua kisah itu berbeda. Di padang gurun itu, Yesus tetap setia kepada Allah. Ini preseden yang baik bagi masa depan manusia. Rasul Paulus mengomentarinya begini:
Sebab, jika karena pelanggaran satu orang, maut telah berkuasa melalui satu orang itu, terlebih lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan anugerah dan karunia kebenaran, akan hidup dan berkuasa karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
Roma 5:17, TB2-LAI
Serangan Iblis dapat dilawan. Yang penting jangan salah pilih kawan.
