Berpuasa dan menjadi berani

Terinspirasi dari bacaan Alkitab: Mazmur 51, Yesaya 58:1-12, Matius 18:1-7

Berpuasa adalah wujud latihan spiritual. Utamanya untuk mengekang nafsu diri. Sebab tanpa kemahiran mengendalikan nafsu, perilaku destruktif mudah terpicu. Puasa juga menjadi bentuk latihan semakin peduli pada orang lain. Dalam pertolongan kuasa ilahi, hasil pengendalian diri akan berbuah pada keberanian melakukan apa yang orang lain acapkali abaikan. Nabi Yesaya mendapat pesan dari TUHAN begini:

..Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Yesaya 58:6-7, TB2-LAI

Maka target utama dari puasa adalah renovasi hati. Ada perubahan mendasar di hati dalam keseriusan relasi bersama Allah. Daud menyinggung ini dalam permohonannya kepada Allah sewaktu bertobat:

Ciptakanlah hati yang murni padaku, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

Mazmur 51:12, TB2-LAI
Photo by Jenna Norman on Unsplash

Dengan demikian, berbalik kepada Allah dengan pemahaman serta perasaan yang baru dalam kendali kasih-Nya adalah kenikmatan tidak bertara dari laku berpuasa. Yesus pernah mengajarkan pentingnya perubahan mendasar dalam hidup:

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga..

Matius 18:3, TB2-LAI

Celakalah dunia dengan segala hal yang menyebabkan orang berdosa! Memang hal-hal itu harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.

Matius 18:7, TB2-LAI