Patutkah engkau marah?

Terinspirasi dari bacaan Alkitab: Mazmur 51, Yunus 4:1-11, Roma 1:8-17

Kesalehan tidak sesempit melakukan apa yang baik saja. Kepedulian yang bersahabat kepada orang yang sedang belajar berbuat baik juga adalah bentuk kesalehan. Demikian salah satu pesan kisah Nabi Yunus. Setelah Niniwe dapat pengampunan Allah, Yunus kecewa. Sampai mau mati segala. Seolah-olah Yunus tidak rela Niniwe dapat hidup baru. Maka TUHAN berfirman kepadanya:

..”Patutkah engkau marah?”

..Bagaimana mungkin Aku tidak mengasihani Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, beserta ternaknya yang banyak?”

Yunus 4:4, 10, TB2-LAI
Photo by Jed Villejo on Unsplash

Kesalehan itu sebuah proses berjalan bersama. Dengan Allah dan sesama. Dengan Allah karena Dialah Sumber Segala Yang Baik, dengan sesama supaya perubahan hidup yang semakin baik itu tidak disimpan sendiri, tetapi dibagikan kepada sesama. Dalam doa pengakuan dosanya Daud berkata:

Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Mazmur 51:15, TB2-LAI

Proses berjalan bersama dalam ziarah spiritual itu keniscayaan. Sebab Allah adalah Allah semua orang beriman. Bukan orang tertentu saja. Kepada Gereja di Roma, Rasul Paulus menuturkan:

..supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik aku oleh imanmu dan kamu oleh imanku.

Roma 1:12, TB2-LAI