Short escape demi healing? Sure! itu kudu mesti. Sejak lahir kita sudah melakukan ini. Semasa kecil merapat ke dada ibu atau ke lengan ayah. Semakin dewasa ada tempat-tempat tertentu di rumah. Lebih dewasa lagi tempat-tempat tongkrongan atau lokasi-lokasi alam yang teduh. Kita butuh tempat-tempat dan suasana untuk “melarikan diri” sejenak memang. Demi ketenangan pikiran dan batin dari rutinitas dan kepenatan hidup yang jumud.
Raja Daud di salah satu Mazmurnya punya tempat escape. Dia memilih Allah menjadi tempat persembunyiannya. Kesesakan hidup menjadi lega dalam pemeliharaan Allah yang menjaga dan mengelilinginya. Demikian imannya. Daud memang telaten dalam menjaga bugarnya spiritualitas. Dia memilih untuk menjaga jalinan relasi dengan Allah selain melakukan berbagai aktivitas pelik khas pemimpin sebuah komunitas besar. Pengalaman demi pengalaman iman bersama Allah terbukti meluputkannya dari kemuraman hidup yang berlanjut tanpa akhir.
Kita semua punya berbagai cara untuk menjaga kebugaran spiritualitas hidup. Apapun caranya, sejauh Allah tetap menjadi tempat persembunyian bagi kita dalam mencari kelegaan, hasilnya tidak pernah mengecewakan. Mungkin tidak selalu kita langsung bersorak gembira sesudahnya. Tetapi yang jelas kita diterima dengan cinta yang nyata oleh-Nya, apa adanya kita, demi tenaga baru untuk tetap mengada dengan asa akibat karunia setia-Nya yang penuh cinta itu.
Terima kasih ya Allah, sebab kasih karunia-Mu selalu menyapa dan terbuka bagi kami yang mengalami kesesakan. Di dalam cinta-Mu kami bersembunyi dan akan bersorak gembira dalam penyelamatan-Mu. Amin.
