Meluap dari hati

Cara kita berkomunikasi dan apa yang ada di perasaan kita sebelumnya itu berkaitan. Apa yang kita tuangkan secara lisan dan tulisan sedikit banyak adalah luapan ekspresi dari hati. Jika hati sedang senang, intonasi dan isi dari kata-kata kita menggambarkan kesukacitaan. Begitu juga dengan ragam rasa lainnya seperti sedih, kecewa, marah, takut, semuanya akan kelihatan melalui intonasi dan pilihan kata-kata kita. Tentu akal pikiran akhirnya memiliki peranan di sini. Akal menjadi seperti penengah yang membuat kita tetap bijaksana dalam memutuskan apa yang hendak kita sampaikan melalui kata-kata dan tulisan.

Photo by Andreas Fickl on Unsplash

Maka menjadi penting untuk mengisi akal pikiran kita dengan banyak membaca dan menimba ilmu yang baik. Jika akal pikiran kita isi dengan data-data dan pengetahuan yang menolong kita untuk bertumbuh dalam hikmat, sewaktu hati kita penuh dengan emosi negatif, apa yang kita ekspresikan tetap bijak dan sehat dalam takaran yang wajar. Artinya, tetap dapat menjaga pola relasi yang mendamaikan dengan Allah dan sesama ciptaan-Nya. 

Tuhan Yesus pernah mengajarkan tentang betapa pentingnya mengelola apa yang menguasai hati sekaligus pikiran kita. Apa yang kita cermati, pelajari, alami, pada waktu yang lampau sedikit banyak akan menambah daya cerna dan kelola pikiran dan hati kita untuk menimbang perkara yang perlu ditanggapi melalui komunikasi lisan, tulisan dan bahasa tubuh kita.

Baik kebaikan maupun kejahatan, pertama sekali dimulai dari pikiran dan hati. Ada baiknya pikiran dan hati kita selalu terbuka untuk diisi oleh hikmat dari Allah. Sehingga apa yang paling bijak menurut-Nya, yang akan lebih menguasi pikiran dan hati kita.

Kuasailah pikiran dan hati kami dengan hikmat kasih-Mu ya Allah, sehingga apa yang kami katakan dan perbuat tidak serampangan, sembarangan dan keji terhadap sesama. Amin.