Jika kita memanggil Allah sebagai Bapa, bahkan acap menghayati rahmat-Nya sebagai seorang Ibu bagi kita, itu semua adalah bahasa iman. Kita tidak dapat memahami Allah seutuh-utuhnya dengan logika dan ilmu kita belaka. Apa yang sudah dilakukan-Nya itulah yang membuat kita menghayati dan memberi makna perjumpaan kita dengan-Nya itu dengan menggunakan bahasa penggambaran.
Kristus sudah menolong kita untuk menyadari bahwa kehadiran diri-Nya itu menunjukkan bagaimana kasih Allah buat kita. Ada kesempatan baru diberikan bagi kita untuk berbenah diri dan melakukan apa yang acap kali kita hindari, yaitu kasih. Dalam proses itu, kita tidak pernah sendirian. Seperti seorang yang kokoh dan kuat yang menopang orang yang hendak terjatuh, Allah dengan “tangan kanan”-Nya merengkuh kita dalam segala kelemahan kita. Dengan kasih yang sedemikian besar itu, karena iman, kita pun “memegang” anugerah kasih-Nya.
Ada saatnya kita tiba pada titik lemah kehidupan kita. Ada kalanya kita menjadi begitu berdaya dan kuat. Ada kalanya kita mesti meniti jalan yang terjal, berliku dan licin. Ada kalanya kita berdiri tegak dengan segala pencapaian hidup. Kapanpun dan apapun yang kita alami dan tempuh, jangan pernah lepaskan genggaman tangan kasih Allah yang menopang kita. Peganglah selalu erat-erat.
Terima kasih ya Allah. Kasih-Mu, hikmat-Mu, pertolongan-Mu nyata menopang kami semua. Jiwa kami akan selalu melekat kepada-Mu. Kami akan selalu memegang erat pertolongan kasih-Mu. Amin
