Agama semestinya mencegah tindakan kekerasan dan bukan mengadakannya. Memang ada tafsiran-tafsiran terhadap kitab suci yang sepertinya melegalkan kekerasan. Tetapi itu hanya tafsiran. Sebuah upaya manusia mencermati maksud utama dari pesan kitab suci itu. Sejatinya setiap kitab suci membuat para pembacanya menghadirkan damai dan sejahtera. Tanpa kitab suci, manusia sudah mahir melakukan kekerasan. Jadi jika ada bagian dari kitab suci yang terang-terangan mengajarkan kekerasan, sebenarnya faedahnya tidak ada sama sekali.
Lalu mungkin kita bertanya, apa di dalam kitab suci kita ada arahan melakukan kekerasan? Tidak ada. Tetapi memang ada tindakan tegas yang keras dalam kerangka penggambaran tentang didikan ilahi bagi manusia. Atau, biasanya tindakan tegas dan keras dialami akibat dari pilihan manusia sendiri yang tidak mau mengikuti hukum kasih Allah. Namun semua itu pasti terikat dengan konteks tertentu. Artinya, tidak serta merta dalam konteks yang sama sekali berbeda, satu tindakan tegas dalam kerangka didikan ilahi diberlakukan sama dalam setiap situasi.
Maka hari ini, jika kita membaca kitab suci dan menemukan suasana penuh kekerasan, seperti peperangan misalnya, atau hukuman Allah bagi orang yang berdosa, cermatilah itu secara seksama supaya kita jangan salah menafsirkannya. Sebab dalam keutuhannya, seluruh kitab-kitab dalam kitab suci kita selalu mengajak kita untuk menjauhi perilaku kekerasan. Firman Allah adalah kata-kata yang memberi kehidupan, merawat kehidupan dan mencegah kebinasaan. Melaluinya kita menjaga diri dari jalan orang-orang yang melakukan kekerasan.
Bimbinglah kami dengan Firman-Mu yang membawa kepada kehidupan ya Allah. Kami percaya bahwa dalam tuntunan hikmat-Mu, kami selalu diperlengkapi untuk menghadirkan dan memperjuangkan kedamaian. Amin.
