Mazmur 91, khususnya ayat 9-12 mengungkapkan keyakinan iman yang besar pada pemeliharaan Allah. Pemazmur yakin dalam perkenanan Allah, bencana dan malapetaka tidak dialami karena perlindungan Allah. Malaikat Allah akan diutus untuk menjaga dan melindunginya dimanapun pemazmur berada. Hambatan yang menghalangi perjalanan hidup disingkirkan. Sungguh sebuah jaminan keamanan yang luar biasa dari Allah.
Uniknya, bagian Mazmur ini bukan saja diungkapkan oleh orang yang percaya pada Allah. Iblis, si penggoda culas yang selalu berupaya melepaskan genggaman tangan anak-anak Allah dari anugerah Allah, pernah mengutip juga bagian Mazmur ini sewaktu mencobai Tuhan Yesus di gurun. Iblis sudah gagal mengajak Kristus menggunakan kuasa mukjizat-Nya supaya mengubah batu menjadi roti. Kristus bertahan setia pada Firman Allah. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari Firman yang keluar dari mulut Allah demikian sikap Kristus memegang teguh Firman Allah dalam menangkal godaan Iblis.
Ketika mengetahui bahwa Firman Allah begitu penting bagi Kristus, Iblis mengajak Kristus memanipulasi bagian dari Mazmur 91 ini. Dalam tafsiran Iblis, bagian ini menjadi semacam azimat penangkal malapetaka dan bencana yang boleh digunakan Kristus juga, kapanpun dan dimanapun. Maka Iblis mengajak Kristus menjatuhkan diri dari bubungan bait suci. Menurut Iblis, malaikat Allah pasti akan diutus menjaga Kristus supaya tidak celaka.
Lagi-lagi Kristus menolak ajakan Iblis itu. Mengapa? Sebab menguji kebenaran pemeliharaan Allah dengan melakukan tindakan yang menyakiti diri sendiri itu bukanlah sikap orang yang menghormati Allah. Masakan Allah dijadikan hamba? Allah menjadi sekerdil azimat dan semacam berhala yang dapat disuruh ini dan itu untuk melindungi padahal yang dilakukan adalah kegiatan yang tidak berfaedah dan membenci kehidupan?
Kristus tentu percaya bahwa malaikat Allah itu standby kapanpun dan kemanapun Allah mengutus. Tetapi keputusan untuk mengutus malaikat-Nya itu sepenuhnya wewenang Allah saja. Semua ada dalam kerangka rencana Allah dan kehendak Allah. Bukan kehendak diri sendiri demi kepuasan kenyamanan diri sendiri. Bukan wewenang Iblis juga untuk memerintah apa yang hendak Allah lakukan.
Mengikuti teladan Kristus, maka imanilah Mazmur 91:9-12, bukan sesempit azimat penangkal malapetaka dan bencana seperti acap kali dilakukan para penyembah berhala. Tetapi imanilah Mazmur 91:9-12 sebagai sebuah ungkapan syukur kita kepada Allah, yang menjadi seperti orang tua bagi kita, yang begitu mengasihi kita, yang bersedia menjalin relasi yang akrab dengan kita.
Dengan kekuatan kasih-Nya itu, maka kita bersedia mengikuti kehendak-Nya dan terlibat dalam rencana baik-Nya bagi dunia ini. Dalam tafsiran yang seperti ini, percayalah, malapetaka dan bencana apapun yang datang dalam hidup kita, tidak akan pernah menghentikan dan menghalangi kasih Allah yang begitu besar bagi kita, anak-anak yang amat sangat mengasihi-Nya.
Kami percaya ya Allah, pemeliharaan-Mu setia bagi kami. Bencana dan malapetaka apapun tidak akan dapat menghentikan serta menggantikan kasih dan kehendak kasih-Mu yang selalu tercurah berlimpah bagi hidup kami. Amin.
