Tinggikanlah Tuhan

Pasti ada yang kita hormati dan dengarkan serta memberikan pengaruh begitu besar bagi hidup kita. Mereka-mereka yang dengan kesadaran penuh kita tempatkan dalam posisi yang lebih tinggi dari kita. Dalam sikap mempercayakan diri pada mereka atau orang itu, pengaruh-pengaruh yang mereka atau dia berikan ikut membentuk pola pikir, perasaan dan tindakan hidup kita. Baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Photo by Brooke Lark on Unsplash

Mengakui Allah sebagai yang Maha Kuasa berarti mengakui bahwa Dia saja yang memiliki kekuasaan tertinggi bagi hidup kita. Ini bijak, sebab cikal bakal dosa terjadi jika Allah menjadi lebih rendah ketimbang diri kita. Kalau itu terjadi pola kekuasaan dalam diri kita rentan untuk mencederakan sesama ketimbang melanjutkan kasih-Nya. Sebaliknya, jika Allah yang berkuasa, hidup kita dilengkapi kuasa kasih-Nya yang memelihara hidup kita dan semesta.

Adakalanya dalam doa pribadi ada orang yang memiliki kebiasaan untuk berlutut. Pola sikap liturgis ini membantu suasana pikiran dan hati yang merendah di hadapan Allah. Ini menjadi seperti latihan yang membiasakan pola pikir kita untuk menjadikan Allah yang berkuasa bagi diri kita dan dunia ini. Tentu pikiran dan hati adalah yang terpenting. Intinya mesti ada kesediaan dari kita bagaimana pada akhirnya hari demi hari, Allah selalu yang utama, berkuasa, dan paling tinggi ketimbang kita.

Kami mengakui bahwa Engkau ya Allah, adalah yang paling berkuasa di semesta ini. Tidak ada yang sebanding dengan tuntunan-Mu bagi hidup kami. Pimpinlah kami selalu dalam mengisi sisa hidup ini dengan hikmat Firman dan kuasa kasih-Mu. Amin.