Koreksi itu suci

Koreksi itu bagian dari belajar. Tanpa koreksi kita tetap pada kekeliruan dan kesalahan yang menyusahkan hidup. Memang tidak semua orang mudah menerima koreksi. Tetapi upaya koreksi tidak boleh berhenti dilakukan. Tentu upaya koreksi itu harus dilakukan dengan kasih sayang. Sebab pasca koreksi, setiap orang butuh pendamping yang sabar supaya pilihan sikap baru yang dijalankannya, menjelma menjadi karakter baru yang menyelamatkan.

Photo by Nick Fewings on Unsplash

Keharusan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita adalah arahan dari Allah yang sangat berguna bagi hidup. Dengan memberikan kasih dalam bentuk pengampunan, pikiran dan hati kita tidak lagi dikuasai oleh beban kebencian. Teguran dan didikan kepada orang yang berdosa tentu perlu. Mengampuni bukan berarti kita kompromi dengan kejahatan. Tetapi teguran yang ditanggapi dengan penyesalan harus dilanjutkan dengan pengampunan. Melaluinya kita mencipta suasana baru dalam kehidupan.

Jangan ragu untuk memberikan teguran dan arahan supaya orang lain menyadari kekeliruannya. Sebab dengan melakukannya, kita menyelamatkan jiwa orang itu dari kebodohan dosa. Jangan ragu untuk memberikan kesempatan baru baginya untuk mengambil langkah baru yang harus ditempuh, sebab dengannya kita sudah menjadi jalan damai Allah baginya.

Curahkanlah kuasa kasih-Mu ya Allah, supaya pikiran dan hati kami sabar untuk memberikan kesempatan baru dan menjadi sahabat bagi orang yang menyesali kesalahannya dan mau mengambil langkah baru dalam hidupnya. Amin.