Marah adalah bagian dari emosi umum kita. Allah ciptakan kita dengan kemampuan untuk marah. Tuhan Yesus pernah marah. Sewaktu bait Yerusalem kehilangan makna aslinya sebagai rumah doa karena penukaran koin dan perdagangan hewan kurban, Yesus marah sekali. Kemarahan adalah bagian dari ekspresi pernyataan pesan melalui bahasa tubuh, lisan maupun tulisan yang dapat dilakukan siapa saja.
Tetapi marah pun butuh dikendalikan. Jika kemarahan tidak kunjung mereda selama berhari-hari, berminggu-minggu, sampai tahunan, sudah tidak sehat lagi. Kitab suci menasihatkan kita bukan tidak boleh marah, tetapi jangan berlarut dalam kemarahan. Jika pesan komunikasi yang hendak kita sampaikan kepada orang lain dapat disampaikan tanpa kemarahan, itu lebih bajik dan bijak.
Sudah banyak bukti dalam peristiwa hidup yang kita saksikan bahwa panas hati dan marah tiada henti hanya menimbulkan malapetaka bagi diri sendiri dan orang lain. Ibarat api kecil yang tidak segera dipadamkan, kemarahan yang tidak dikendalikan mampu merusak tatanan kehidupan karena berpotensi menghasilkan kejahatan demi kejahatan yang keji.
Ya Allah yang lembut, biarlah Roh-Mu menolong kami selalu, supaya jika kami marah, kami mampu menghentikannya. Hati kami Engkau ubahkan menjadi dingin dan mampu melakukan apa yang baik. Demi, Anak-Mu Kristus, kami memohon. Amin.
