Yang memelihara yang berbahagia

D.L.Moody, seorang pekabar Injil dari Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa Allah memberikan firman-Nya kepada manusia bukan untuk diketahui, tetapi untuk mengubahkan kehidupan manusia. Moody benar. Kitab suci pada dirinya sendiri hanya seonggok buku saja, jika tidak dibaca, tidak dicermati, tidak dihidupi pesan-pesan yang ada di dalamnya.

Photo by von Vix on Unsplash

Memelihara firman Allah dengan menjadikan pesan-pesan dari Allah mencerahkan sudut pandang hidup kita, pasti berujung pada kebahagiaan dalam hidup. Maksud kebahagiaan hidup ini tidak semata memberikan rasa senang dan gembira yang instan saja, tetapi ada ruang dalam pikiran, dalam hati kita yang selalu terbuka pada harapan yang baik. Ada penyegaran batin. Ada momen “aha” yang membuka pikiran dan hati kita untuk menerima kasih suci ilahi yang mendamaikan.

Dalam kedamaian itu, apa yang menjadi kekuatan dalam diri kita pelan-pelan terkelola dengan baik. Bahkan berujung pada pernyataan kebaikan bagi segenap ciptaan Allah yang membutuhkan pertolongan. Pengalaman-pengalaman menyakitkan karena kesalahan dan kelemahan kita atau kesalahan orang lain, tidak menjadi ganjalan akut yang menciderai. Kita berani memilih untuk memberikan kasih dan pengampunan untuk setiap momen kelam itu. Pelan-pelan kita menjadi berbahagia, karena menyadari Allah sungguh sangat dekat, peduli, mengubahkan dan menyelamatkan kita. 

Temani dan tolong kami ya Allah dengan Roh-Mu, supaya kami bukan saja cermat mendengar apa yang Engkau firmankan, tetapi juga memeliharanya dalam keseharian hidup. Kami percaya kami akan berbahagia. Amin.