Dalam kelas kursus biasanya ada tingkatan. Pemula, menengah, mampu, dan mahir. Sederhananya begitu. Biasanya ada varian-varian lain. Intinya tingkatan pemula pasti memiliki kemampuan yang berbeda dengan yang sudah mahir. Hampir pasti, para pengajar adalah mereka yang sudah melewati tingkatan mahir. Setiap pemula pasti bersyukur jika ada begitu banyak ilmu dan kemampuan ditimba dan tersalur dari para pengajarnya.
Pernahkah kita membayangkan saat kita berdoa kepada Allah, sebenarnya kita itu sedang berbicara dengan pencipta diri kita, sekaligus alam semesta ini? Jika pernah atau bahkan sering, rasanya kita tidak akan kesulitan untuk segera mengalami kelegaan dan kedamaian sebelum membicarakan segala permintaan kita kepada-Nya. Mengapa? Sebab kita tengah menjalin relasi dengan Sang Maha Mahir dalam ruang lingkup hidup kita bahkan alam semesta ini.
Berkat arti sederhananya ialah kebaikan yang amat kita butuhkan. Sedari awal menciptakan kita, menurut kesaksian Alkitab, Allah sangat memahami apa yang paling kita butuhkan sesuai pandangan-Nya. Cuma masalahnya karena kegelapan dosa, kita cepat-cepat menilai bahwa apa yang paling kita butuhkan menurut penilaian-Nya Allah, bukanlah kebutuhan kita. Apa yang begitu amat nyata sudah diberikan Allah sesuai kebutuhan kita, acap kali malah kita anggap remeh karena terdepak oleh keinginan kita yang justru dalam pandangan Allah mungkin adalah yang remeh temeh.
Semoga hari ini, karena pertolongan Roh-Nya, kita ditolong untuk kembali mencermati dengan Siapa sebenarnya kita berhadapan dan menjalin relasi sewaktu kita menaikan segenap permohonan doa-doa kita.
Ya Allah, Engkaulah yang mengetahui dan mengerti apa yang paling kami butuhkan saat ini. Jadilah kehendak-Mu. Tolonglah kami makin hari makin rendah hati, untuk tetap percaya bahwa Engkau baik. Selalu baik bagi kami. Amin.
