Dikuduskanlah nama-Mu

Tidak ada orang yang nyaman bila namanya salah ditulis atau disebut. Nama memang hanya terdiri dari rangkaian huruf. Tetapi melalui nama, kita dapat mengidentifikasi orang yang itu dan bukan yang ini. Pribadi yang sesuai dengan pengenalan kita dan bukan pribadi yang asing. Nama menjadi begitu istimewa sebab memicu arah dan fokus perhatian kita pada apa yang ditunjukkannya.

Photo by Alex Moiseev on Unsplash

Dalam Alkitab, nama Tuhan tidak bisa dipahami sebagai kata benda. Sebab kala membaca nama Tuhan, kita selalu akan menemukan sifat-Nya dan pekerjaan-Nya. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata “tuan”. Tuan adalah sosok yang agung, mulia, berkuasa, diakui oleh hamba-hamba-nya. Dialah yang memiliki rencana besar dan proyek pekerjaan utama. 

Bahasa kita menambahkan huruf “h” kepada kata “tuan” untuk membedakan Tuhan dengan Tuan biasa. Panggilan ini, setidaknya dalam pemahaman yang amat terbatas, menolong kita untuk mengakui Allah sebagai Yang Agung, Mulia, dan berkuasa atas kita hamba-hamba-Nya. Dia yang selalu utama, bukan kita. Dia mengajak serta kita berkarya bersama-Nya.

Melalui penghayatan spiritual ini, sebagai hamba-hamba-Nya yang ada dalam jangkauan kuasa-Nya, nama kita sebenarnya jauh kurang penting dibandingkan nama-Nya. Sebab apa yang dapat kita kerjakan tidak pernah dapat menandingi apa yang sudah dikerjakan Allah. 

Oleh sebab itu kalau misalnya kita mohon ini dan itu kepada Allah, sebenarnya lebih sehat secara spiritual untuk mendasari permohonan kita sebagai bentuk pengakuan akan apa yang sudah dan dapat Allah lakukan. Yang kita mohonkan ialah supaya dalam tindakan-Nya, Allah menyatakan betapa mulia-Nya Dia. Persis seperti awal doa yang diajarkan Tuhan Yesus: “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah Nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu.”

Nama-Mu ya Tuhan yang paling Mulia. Bertindaklah sesuai dengan kemuliaan-Mu, kasih-Mu, kehendak kerajaan-Mu bagi kami hamba-hamba-Mu, anak-anak-Mu. Amin.