Kepedulian itu relatif bagi manusia pada umumnya. Setiap orang beda-beda pedulinya. Biasanya orang menjadi peduli jika terkait dengan apa yang membuatnya senang dan bahagia. Ini lumrah dan tidak apa-apa. Bahkan baik. Sebab untuk dapat mengasihi sesama, kita harus mengasihi diri sendiri terlebih dahulu, kata Tuhan.
Tanpa kepedulian, tidak akan ada dorongan tindakan yang mengubahkan keadaan. Kepedulian kepada diri sendiri adalah tindakan yang paling terjangkau untuk kita lakukan. Tetapi pelan-pelan biasanya ada kesadaran muncul. Hidup kita ternyata tidak pernah sendirian. Dunia kita tidak sekecil dan sesempit badan kita saja. Kita ada dalam kaitan relasi dengan banyak faktor dan banyak orang dengan rupa-rupa kepedulian pribadinya masing-masing.
Sewaktu kesadaran itu muncul, kita boleh meniru kepedulian Allah bagi kita. Kepedulian yang tidak terkungkung pada apa yang membuat senang dan bahagia bagi diri sendiri saja. Kepedulian yang fokusnya seluas semesta. Kepedulian yang mengobati luka ketimbang membuat sengsara. Kepedulian yang merendah demi mengangkat yang terbawah. Kepedulian yang tidak mempedulikan perkasa demi menyadarkan yang jumawa. Kepedulian yang mengalirkan senang dan bahagia bagi segenap makhluk semesta.
Kekuasaan-Mu menyadarkan betapa kami ini hina dan tak layak jumawa di dalam semesta. Tetapi Engkau peduli ya Allah. Kasih-Mu mendekap kami yang hina. Keadilan-Mu, mendidik kami yang angkuh. Biarlah Roh-Mu menguasai kami, supaya dengan kepedulian-Mu kami menata diri demi mengalirkan bahagia bagi semesta. Amin.
