Tidak mendapat respons yang patut dan nyambung saat mencoba menjalin relasi komunikasi dengan orang lain memang menjengkelkan. Rasanya seperti bicara dengan tembok. Tetapi memang setiap lalu lintas komunikasi antar manusia ada kelemahannya. Entah dari segi sarananya, waktunya, atau karena lawan bicara kita itu memang kesulitan atau bahkan tidak menangkap pesan yang kita sampaikan.
Untungnya relasi spiritual yang kita jalin dengan Allah tidak begitu. Dengan iman kita percaya bahwa setiap seruan jiwa kita kepada Allah yang mengasihi kita, sudah didengar-Nya dan akan ditanggapi-Nya. Memang tanggapan dan jawaban-Nya kemudian perlu ditangkap secara spiritual. Maksudnya, tanggapan Allah itu tidak sama seperti saat kita ditanggapi oleh teman yang menjawab telepon kita dengan suara atau gambar yang jelas.
Tanggapan Allah biasanya dapat dicermati dan dirasakan terlebih dahulu dalam hati dan jiwa kita. Ada pencerahan dalam cara kita berpikir dengan kedamaian hati yang akan memampukan kita melihat secara baru diri kita, orang-orang sekitar kita dan peristiwa hidup yang kita alami.
Pengalaman spiritual memang tidak pernah dapat dengan mudah dijelaskan dengan deskripsi dan eksposisi kata-kata. Sebab namanya pengalaman, ia harus dialami sendiri. Pengalaman itu sifatnya suci, pribadi, tetapi yang pasti penuh arti dan akan mempengaruhi aksi kita dalam mengisi hidup sehari-hari.
Saat kami berbicara, Engkau mendengar ya Allah. Dan biarlah saat Engkau berbicara, kami pun dimampukan mendengar. Sehingga apa yang menjadi pembicaraan kami selanjutnya, terbarukan oleh karena suara-Mu yang mendamaikan jiwa itu. Amin.
