Diri yang sama dengan wawasan berbeda

Semakin bertambah usia, semakin bertambah juga wawasan kita akan banyak hal. Pengetahuan, keterampilan, kunjungan ke banyak tempat, mengenal ragam karakter orang, adalah sekian dari banyak isi wawasan pengalaman hidup kita sampai sekarang ini. Semua berharga dan bernilai manakala kita cakap mengelolanya dengan bijaksana.

Photo by Anthony Tran on Unsplash

Sewaktu masih anak-anak, wawasan kita terbatas. Sebenarnya ini ada untungnya. Sebab dengan wawasan yang masih terbatas itu kita tidak mudah tergoda untuk melakukan kejahatan-kejahatan manusia sebagaimana orang dewasa cenderung mudah dan sering melakukannya. Kepolosan, kenaifan, keriangan kita selagi masih anak-anak, menjadi pemicu bagi kita untuk melihat setiap peristiwa hidup dalam kerangka permainan yang gembira. Ruginya, kita belum utuh melihat realita kehidupan dengan semua pengetahuan yang begitu luasnya terbuka untuk dipelajari.

Menariknya, dalam salah satu surat nasihatnya bagi Gereja Korintus, Rasul Paulus pernah menyarankan, bagaimana orang Kristen dapat meramu wawasan yang dimiliki anak-anak dan orang dewasa. Katanya, kita dapat memilih untuk menjadi dewasa dalam pemikiran, tetapi dalam hal perilaku kejahatan dan tabiat buruk, menjadi seperti anak-anak. Nasihat ini layak untuk dicoba. Sebab bukankah diri kita semasa kecil dan dengan yang sekarang ini adalah diri yang sama?

Terima kasih ya Allah, untuk akal budi dan hati nurani pemberian-Mu. Bimbinglah kami dengan Roh-Mu supaya manakala pemikiran dan wawasan kami bertambah luas, kami tetap menjadi anak-anak-Mu yang taat dan gembira, dituntun oleh Firman dan kasih-Mu. Amin.