Kiranya kasih selalu memandu hidup kita

Tidak semua orang senang mendengar kata “hukum”. Bagi yang pernah mengalami masalah hukum, atau yang semasa kecil mengalami trauma buruk dengan hukuman orang tua yang terlampau keras misalnya, bisa jadi kata ini memicu kemurungan. Namun bagi orang yang bergerak dalam bidang hukum, atau para penegak hukum, kata ini adalah keseharian hidup yang akrab.

Bahasa iman kita mengenal apa yang dinamakan “hukum Tuhan”. Tetapi tunggu dulu, jangan bayangkan istilah ini dengan serangkaian aturan boleh tidak serta hadiah dan petaka belaka. Coba bayangkan istilah ini sebagaimana kita memahami “hukum gravitasi” yang lebih mengajak kita untuk melihat sebuah sistem natural, yang melaluinya ada begitu banyak manfaat hidup dihasilkan. Dengan mengenali “hukum gravitasi”, kita mempelajari bumi kita berotasi, siklus iklim terbentuk, makhluk hidup berkembang dalam proses dinamis yang menakjubkan dan banyak lagi manfaat yang muncul karena pengelolaan pengetahuan hukum itu.

Photo by Dan Meyers on Unsplash

Saya membayangkan hukum Tuhan tidak jauh dari kenyataan yang mirip seperti itu. Kitab suci kita mengungkapkan bahwa kehadiran Tuhan dalam sejarah umat manusia menjadi kenyataan yang tidak dapat diabaikan. Kepekaan manusia untuk mengenali kehadiran Tuhan dan menangkap serta mengenali “hukum-Nya” sebagai hikmat yang mencerahkan akal budi dan nurani dalam memperbaiki perilaku hidup adalah kesadaran yang menyenangkan dan membangun, jauh dari momok yang menyeramkan.

Allah adalah kasih, dan kasih itu mewujud dalam ciptaan-Nya, memelihara ciptaan-Nya, memulihkan ciptaan-Nya. Kasih itu menjadi kuasa-Nya. Kasih itu adalah intisari dari “hukum-Nya”. Oleh sebab itu tidak keliru jika di dalam Mazmur 19:11-12, Sang Pemazmur mengimani bahwa hukum Tuhan itu lebih berharga dari emas murni, lebih manis dari madu asli. Karena baginya, hukum Tuhan memandunya untuk mengalami apa yang sehari-hari, natural, namun berkualitas sebagaimana dicanangkan dan dikehendaki Sang Pencipta, melampaui apa yang menurutnya berharga dan menyenangkan selama ini.

Dengan bimbingan Roh-Mu kami mengenali hukum-Mu ya Allah. Hukum yang intinya adalah kasih. Karena hukum-Mu yang dinyatakan melalui Kristus, kami hidup, pulih, bahagia dan lega untuk menjaga kehidupan semesta. Terima kasih Tuhan. Amin.

Saran-saran aplikasi tindakan iman:

  1. Mencermati 10 perintah Allah di dalam Perjanjian Lama.
  2. Tidak berprasangka buruk dalam mencermati hukum/ perintah/ larangan umum yang dijumpai sehari-hari.
  3. Menjaga supaya hukum/ perintah/ larangan sehari-hari didasarkan oleh kasih yang membangun kehidupan.