Mengakui kelemahan diri, itu kekuatan.

Penulis kitab suci banyak menggunakan bahasa puitis untuk menggambarkan ungkapkan iman mereka akan pemeliharaan Allah. Daud misalnya, dalam banyak Mazmur gubahannya, menggambarkan Allah seperti gembala, seperti raja yang menyambut tamu terhormat dan banyak lagi yang lainnya. 

Photo by Lia Maaskant on Unsplash

Dalam Mazmur 36:8, Daud menggambarkan Allah seperti induk unggas yang melindungi anak-anaknya di bawah naungan sayapnya. Rasanya bagi Daud sudah cukup banyak bukti betapa kasih Allah itu nyata-nyata melindunginya dari keputusasaan dan kekhawatiran. Kasih Allah menjadi begitu berharga sebab diberikan dengan ketulusan tanpa mengharapkan balasan. Anak unggas yang lemah, mengalami perlindungan yang mendewasakan dalam naungan sang induk bukan?

Seiring pertambahan usia, kita sudah banyak mengalami pengalaman mengasihi dan dikasihi. Acap kali mungkin kita dikecewakan dan mengecewakan hati sesama kita. Jujur, kita memang tidak sempurna dalam menghidupi cinta kasih. 

Tetapi biarlah hari ini kita tidak berkecil hati, sebab kita selalu dapat belajar tentang kasih yang begitu berharga dari Allah. Kasih-Nya akan selalu melingkupi ketidaksempurnaan kita. Mudah-mudahan, kian hari cara kita menyatakan kasih kita kepada sesama pun pada akhirnya tercerahkan dan terpengaruh karena-Nya.

Terima kasih ya Allah, sebab naungan sayap kasih-Mu terbuka melingkupi ketidaksempurnaan kami. Biarlah dengan kasih-Mu yang amat berharga itu, kami selalu dikuatkan untuk tetap mencinta dengan nyata, tulus dan setia. Amin.

Saran-saran aplikasi tindakan iman:

  1. Mengakui bahwa akal pikiran dan logika kita kadang menjadi penghalang untuk menyatakan cinta yang tulus.
  2. Memohon dalam doa supaya kuasa kasih Tuhan memurnikan cara kita menyatakan cinta.
  3. Bersyukur kepada Tuhan sebab Dia berkenan melindungi kita anak-anak-Nya.