Matahari pagi dapat melatih kepekaan spiritual kita tentang makna pengharapan dalam hidup. Malam yang dingin dan gelap berganti dengan pagi yang hangat dan terang. Walau dingin dan gelap tidak jelek dan buruk, tetapi semua manusia menjadi lebih nyaman dalam hangat dan terang. Mungkin karena mengingatkan kembali bagaimana rasanya ada dalam dekapan hangat ibu sewaktu berada dalam rahimnya.
Acap kali terang menjadi simbol kebaikan dan gelap sebagai simbol petaka dalam bahasa-bahasa keagamaan pada umumnya. Demikian kita menjumpai juga hal ini pada beberapa bagian kitab suci kita. Dalam berita baik untuk umat Israel sewaktu Allah membawa mereka kembali keluar dari pembuangan Babel, pertolongan Allah yang memunculkan sudut pandang baru dalam hidup umat-Nya diibaratkan dengan hadirnya terang yang menyinari kegelapan.
Allah bukan saja menghadirkan diri-Nya bagi umat yang sedang berada dalam gelapnya hidup, tetapi Allah juga akan membuat umat-Nya memancarkan terang kebaikan Allah melalui perilaku hidup mereka. Allah menghendaki semua orang yang ada dalam kegelapan, mendapatkan pencerahan dan kebaikan-Nya.
Pengalaman pribadi sewaktu kita mengalami kebaikan dan pemulihan Allah di tengah keseharian hidup adalah pengalaman spiritual yang sungguh berharga. Pengalaman itu menjadi berharga bukan semata-mata kita telah mengenal dan mengalami kuasa Allah, tetapi karena melalui pengalaman itu, Allah telah memberikan karunia-Nya bagi kita supaya kita pun menghadirkan kebaikan bagi sesama ciptaan-Nya. Allah berkenan memberikan sudut pandang baru bagi kita untuk ikut serta memulihkan kehidupan bumi dan segenap isinya.
Terima kasih ya Allah, sebab karena kuasa kasih-Mu yang besar itu, kami telah dihadiahkan sudut pandang yang baru dalam mengelola hidup. Cerahkanlah selalu pikiran dan hati kami dengan terang-Mu sehingga kami tekun dalam ikut serta menghadirkan kebaikan-Mu bagi sesama ciptaan. Amin.
