Stefanus adalah salah seorang anggota gereja mula-mula. Pada zamannya, menjadi seorang pengikut Kristus tidak mudah. Orang-orang yang tidak percaya bahwa Mesias, Sang Kristus telah hadir, menganiaya dan berupaya melenyapkan iman gereja mula-mula. Namun iman tidak pernah bisa dilenyapkan.
Dalam pembelaannya sewaktu hendak dieksekusi mati, Stefanus menjelaskan isi imannya dengan lugas, lantang dan berani. Stefanus paham betul sejarah keselamatan umat Allah sejak perjanjian lama. Stefanus percaya bahwa kasih Allah selalu sama sepanjang zaman dan kini Allah menghadirkan perjanjian yang baru melalui karya Yesus Kristus.
Salah satu bagian dari pembelaannya menyinggung soal kekuasaan Allah yang tidak dapat dibatasi oleh lokasi dan gedung. Jika dalam perjalanan sejarah, Allah pernah menggunakan sarana-sarana tertentu seperti kemah suci dan bait suci yang melaluinya iman umat terbangun, itu berangkat dari prakarsa Allah sendiri. Sejatinya, kuasa Allah melampaui semua hal di alam semesta ini.
Berulang kali dalam perjalanan sejarah umat Israel, para nabi bernubuat dan mengingatkan mereka untuk tidak menjadikan iman mereka kering, kaku dan rutin tanpa makna seperti orang-orang yang menyembah kuil-kuil berhala.
Menurut Stefanus, seperti halnya para nabi sudah menyampaikan pesan Allah sendiri, akan tiba saatnya Allah menghadirkan Dia yang membimbing umat Allah dengan lebih hidup, dinamis dan memberi dampak besar bukan hanya bagi umat Israel, tetapi bagi segala bangsa di dunia. Tetapi lagi-lagi pembaruan spiritual itu ditolak dengan kekerasan oleh orang-orang yang mencoba mengungkung kuasa Allah dalam ritus dan dogma yang kering.
Stefanus akhirnya mati. Kekerasan hati, kesuraman pemikiran dan kebebalan untuk menerima kasih Allah ternyata berakhir dengan kekerasan bahkan pembunuhan. Tetapi iman yang dihidupi oleh Stefanus tetap hidup dalam diri miliaran orang di dunia ini. Jika sekarang ini hati dan pikiran kita begitu kerdil untuk menyadari betapa berkuasanya Allah dalam hidup kita, hati-hati. Jangan-jangan nanti kita menjadi seorang pembunuh dan bukan penyembuh.
Ampuni kami ya Allah, jika pikiran dan hati kami tidak menyadari betapa kuasa-Mu melampaui semua. Kini temanilah kami dengan kuasa kasih-Mu yang besar itu, sehingga bersama-Mu kami menjadi penyembuh-penyembuh untuk sesama ciptaan-Mu. Amin.
