Allah adalah kasih. Demikianlah penegasan iman kita. Hikmat kitab suci mengajarkan kita bahwa kata-kata hikmat suci dari Allah ada bersama-sama dengan-Nya sewaktu menciptakan semesta, termasuk kita manusia. Tetapi ada masalah setelahnya. Bukan dari Allah, tetapi dari ciptaan-Nya, utamanya manusia. Namun, Allah tetap mengasihi. Kasih-Nya gratis. Maksudnya, kasih-Nya tidak mengharap imbalan dan diberikan karena memang kita sebagai manusia tidak mampu memilikinya.

Lewat kata-kata hikmat-Nya yang suci, lagi-lagi tak jemu Allah bertutur, menasihati, mengarahkan, mengingatkan. Syukurlah, semesta berangsur pulih membaik.
Tetapi rupanya Allah tidak pernah puas untuk memberikan kasih-Nya yang gratis itu. Upaya demi upaya terbaik, bak orang tua yang selalu mengupayakan apa yang baik bagi anak-anaknya yang merangkak keluar dari kesulitan akibat kebodohan, Allah memilih meraga melalui Yesus, masuk langsung dalam sejarah dunia ini untuk lagi-lagi bertutur, menasihati, mengarahkan, mengingatkan.
Bukan hanya itu, melalui Yesus, Ia menghidupi apa yang Ia tuturkan senyata-nyatanya, supaya cinta tidak sekerdil deretan aksara hampa. Cinta mesti meraga, merengkuh, menggapai beradanya diri manusia supaya mampu mencinta dan menjadi anak-anak-Nya yang sudi berkarya dalam angsuran pemulihan semesta.
Tidak selalu cinta kasih suci Allah yang gratis itu disambut dengan lega, gembira beserta karya ikutan manusia dalam kebaikan-Nya. Tetapi tidak mengapa. Cinta sejati memang tidak pernah memaksa. Ia selalu memberi, meraga, luka, namun selalu akan menjadi yang paling berkuasa, sampai akhir kata dan aksara.
Melalui Anak-Mu kami sudah melihat keagungan kasih-Mu yang tiada henti itu. Terima kasih ya Allah, untuk kasih-Mu yang selalu gratis memberkati dan memelihara kami. Dengan kekuatan Roh-Mu, temani kami dalam melanjutkannya bagi sesama ciptaan. Amin.
