Indahnya iman kita ialah bahwa kita mengimani Allah itu sebagai Allah yang menyejarah. Maksudnya, dalam setiap peristiwa hidup entah suka maupun duka, kita diajak untuk tidak buru-buru memberi kesimpulan. Sewaktu mengalami hal yang menyenangkan, kita belajar untuk tetap rendah hati dan tidak takabur. Sewaktu susah, kita tidak buru-buru putus asa..

Sebagai Allah yang menyejarah, kita percaya bahwa kuasa-Nya bukan sesempit untuk konsumsi pribadi kita saja, tetapi bagi seluruh bumi. Allah tidak pernah memperkenalkan dirinya sekecil Allah yang personal saja, tetapi juga Allah yang komunal.
Dalam terang penghayatan yang demikian, maka kita mampu memberi makna bagi setiap pengalaman hidup kita dengan lebih seimbang. Kita tidak buru-buru mengatakan: “Allah menghukum saya!”, sebab mungkin yang kita alami adalah didikan-Nya karena Dia mengasihi kita, sebab mungkin kita begitu mementingkan diri dan tidak peduli kepada sesama. Begitu juga kita menjadi tidak pongah dengan mengatakan: “Allah memberkati saya!”, jika apa-apa yang baik itu kita dapatkan secara curang dan jahat.
Oleh sebab itu biarlah sewaktu mencermati setiap peristiwa hidup sehari-hari, kesimpulan kita sederhana saja, yaitu ini: Kasih Allah tidak pernah berhenti. Dia menghendaki kita mengalami perubahan hidup dan karena perubahan itu, kita dimampukan menjadi rekan kerja-Nya untuk melakukan pembaruan dan perubahan hidup yang dimulai dari komunitas terkecil hidup kita.
Kami percaya ya Allah, bahwa Engkau adalah sumber kasih yang kekal bagi hidup kami. Temani dan lingkupi kami selalu dengan kasih-Mu yang tidak berhenti itu, supaya kami pun terus berproses dan menikmati perubahan hidup pemberian-Mu untuk menjadi rekan kerja-Mu membarui bumi ini dengan cinta. Amin.
