Menjadi baik itu proses, tidak sekali jadi

Ilmu pengetahuan, cara-cara menjadi terampil akan suatu hal, serta ragam pencerahan akal budi dan nurani lainnya tersedia melimpah bagi kita sekarang ini. Selagi sehat dan bugar, tubuh kita dapat mencermati itu semua dan mengambil manfaat darinya. Dalam bahasa iman kita, dikenal istilah hikmat. Secara sederhana hikmat itu adalah pengetahuan yang bukan saja mencerahkan akal dan menyentuh nurani, tetapi juga memicu kesadaran penuh bagi kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang bijak dan bajik.

Kesediaan diri kita untuk menyimak dan menyambut didikan yang membangun hidup tidak pernah membuat kita rugi dan sedih. Kita tahu hidup kita bukan sekadar bernafas saja, tetapi juga menjadi sebuah proses mengolah dan memberi makna. Tidak selalu semuanya kuantitas tetapi juga kualitas. 

Menjadi baik dalam pengertian, kita mengenali segenap kekuatan yang ada di dalam diri, menjadi bahagia karenanya dan karenanya kita pun dapat memberi kebahagiaan kepada orang lain tidak pernah sekali langsung jadi. Pasti ada proses yang ditempuh. Jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Selagi Allah izinkan kita untuk bernafas, maka dengan iman kita percaya bahwa sejauh itu juga kita mendapatkan banyak kesempatan untuk menjadi bahagia, dan memberi kebahagiaan pada sesama kita karena menyimak, menyambut dan menghidupi hikmat.

Terima kasih ya Allah, sebab hikmat yang suci dari-Mu tersedia untuk kami dengarkan, pelihara dan dapatkan. Dampingi kami selalu dengan Roh-Mu supaya dalam setiap proses yang kami tempuh, hati tetap lembut dan pikiran tetap jernih. Sehingga setiap tindakan hidup kami berkenan menurut-Mu. Amin.