Hikmat iman kita mengajarkan bahwa Allah sangat jauh berbeda dengan berhala dan sesembahan pesugihan. Allah tidak bisa disogok atau dipancing dengan sesembahan seberapapun banyaknya. Sebab bukankah, Allah pencipta dan pemilik semesta alam ini? Allah yang diberitakan di dalam kitab suci kita ialah Allah yang menghendaki relasi. Relasi yang berangkat dari kerendahan hati dan cinta kasih yang tulus kepada-Nya. Menjalin relasi dengan Allah berarti memilih untuk menempatkan cinta kasih menjadi hal yang terutama di dalam hidup melampaui apapun juga.

Pernah pada suatu masa umat Allah salah kaprah soal cara bagaimana relasi dengan Allah dibangun. Mereka menyangka dengan rupa-rupa persembahan dan ritus-ritus yang dilakukan, Allah menjadi senang. Tetapi ternyata Allah tidak senang. Sebab yang dikehendaki Allah bukan hubungan domestik antara seorang pribadi dengan Allah saja, tetapi akibat yang terjadi karena hubungan pribadi itu dengan Allah yang berdampak bagi sesama manusia. Sewaktu bersatu dengan Allah, semestinya seseorang menjadi semakin mudah untuk menyatakan apa yang adil dan mengamalkan cinta kasih kepada sesama manusia.
Kita bersyukur bahwa proses jalinan relasi dengan Allah itu justru dimulai dari tindakan Allah bagi kita. Melalui kehadiran Yesus Kristus, Allah menunjukkan bahwa relasi hanya dapat terjalin dengan tindakan merendah dan memberi diri. Mulai dari palungan sampai salib, karya Kristus dipenuhi dengan contoh sikap yang jelas bagi kita bagaimana relasi antara sesama manusia itu dapat dibangun secara sehat. Melalui dan bersama Kristus, kita akan menikmati persatuan dengan Allah. Karena jalinan persatuan itu, dengan kekuatan anugerah-Nya, percayalah, mengasihi menjadi hal yang mudah.
Ampunilah kami ya Allah, kalau kami tidak menempatkan Engkau secara semestinya dalam hidup kami. Sekarang, kami mau menyambut dan menerima kehadiran Anak-Mu dalam persekutuan dengan Roh-Mu, menguasai hidup kami. Amin.
