Mengalami kejadian hidup yang mengejutkan dan mengundang banyak tanda tanya adalah keniscayaan yang tidak mudah. Ada saatnya mungkin kita mengalami, kekuatan kita menjadi begitu tertutup dengan hentakan keadaan. Saat itu seolah-olah kita berada pada titik lemah hidup kita.

Maria ibu Yesus pernah mengalami hal yang kurang lebih seperti itu. Mengandung bayi Yesus dalam keadaan masih bertunangan dan lalu mendapatkan berita ajaib bahwa bayi itu adalah Kudus, dari Allah, sungguh sebuah keterkejutan hidup yang tidak mudah.
Namun, Maria masih dapat bersyukur. Maria percaya bahwa jika apa yang harus ditempuh adalah demi kebaikan bagi banyak orang, walaupun tidak mudah, dia akan tetap menjalaninya. Maria mampu mengenali peran dan tujuan yang lebih besar dari Allah untuk dirinya dan banyak orang melalui kelahiran dan karya Yesus.
Penginjil Lukas dalam Lukas 1:46b-55 mencatat nyanyian syukur Maria di tengah keterkejutan hidupnya. Madah pujian ini mengungkap siapa dan apa yang dikerjakan Allah bagi hidupnya. Allah adalah Dia yang peduli dan memahami kelemahan dirinya dan saudara-saudara sebangsanya. Allah adalah Dia yang tidak mengabaikan ketidakadilan yang dialami umat-Nya. Allah adalah Dia yang setia pada janji kasih setia dan pemeliharaan-Nya yang mendatangkan kehidupan yang penuh damai dan sejahtera.
Menyimak madah pujian Maria ini sebelum merayakan Natal di tengah pandemi yang masih kita perangi ini, kiranya menginspirasi kita untuk terus sadar dan bersyukur, bahwa melalui kehadiran Kristus, Allah sudah dan akan selalu menunjukkan kepedulian-Nya yang nyata bagi kita. Allah akan menguatkan dan memberkati kita untuk menjadi jalan berkat-Nya dalam menyatakan keadilan karena kasih yang menunjukkan kebenaran untuk mendatangkan kehidupan yang damai dan sejahtera karena anugerah-Nya.
Terima kasih Tuhan, sebab kasih-Mu merengkuh hidup kami yang lemah. Keadilan-Mu nyata dan kebenaran-Mu membawa hidup. Dengan pertolongan-Mu kami akan terus melangkah dengan sukacita hari ini.
