Sahabat saya, seorang perempuan. Dia pernah mengungkapkan bahwa perempuan punya kelemahan yang menurutnya menjengkelkan. Berangkat dari pengalamannya sendiri dia mengatakan acap kali perempuan sedikit memberikan apresiasi kepada sesama perempuan. Kecenderungannya, malah seperti ada semacam persaingan yang saling melemahkan satu sama lain. Mendengar itu, awalnya saya terdiam lalu segera merespons dia dengan mengatakan: “Laki-laki juga punya kecenderungan yang sama.” Tetapi dia balik merespons: “Ya, tetapi dikalangan kami perempuan lebih tinggi kadarnya.”
Mungkin apa yang dikatakan sahabat saya itu sebenarnya bukan kelemahan perempuan. Tetapi deviasi dari kekuatan perempuan. Sebagai ciptaan Allah yang menolong kelemahan laki-laki, perempuan pada umumnya lebih mahir dalam mendayagunakan kekayaan emosi. Kita mengenal ungkapan bahwa perempuan lebih perasa dan laki-laki lebih berlogika. Tetapi acap kali, entah mengapa, kekuatan “merasa” itu mengalami deviasi pada saat bertemu dengan sesama perempuan.

Namun tidak selalu terjadi demikian. Melalui bacaan kitab suci kita menjumpai Rut dan Naomi dalam perjanjian lama serta Maria dan Elisabet dalam perjanjian baru. Mereka adalah para perempuan besar yang melahirkan laki-laki yang berpengaruh dalam kehidupan umat Israel. Karena kepekaan rohani dan kerendahan hati mereka sebagai para pejuang kasih, maka kita menjumpai Daud, Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus.
Maria dan Elisabet misalnya, di tengah-tengah “kejutan hidup” sewaktu mengandung janin-janin ajaib dalam rahim mereka, keduanya saling mendukung dan memuji, menguatkan dan menyemangati. Secara usia, Elisabet sudah mendekati senja dan Maria masih belia. Tetapi karena kecintaan mereka yang besar kepada Allah yang sedang mengerjakan transformasi hidup umat-Nya yang tertindas, mereka tekun menjadi perintis-perintis utama dalam rencana besar pembaruan perjanjian Allah yang menyelamatkan. Mereka bukan saja peka secara psikologis tetapi juga spiritual dalam memaknakan apa yang terjadi dengan mereka satu sama lain.
Hari ini, biarlah karena kerendahan hati, kepekaan rohani kita tetap tajam untuk mengenali bagian yang dapat kita kerjakan bersama-sama dengan Allah untuk memperbaiki bumi ini dan masalah relasi antara sesama ciptaan-Nya.
Lembutkanlah hati kami sehingga peka untuk mengenali karya kasih-Mu yang menjumpai kami ya Tuhan. Biarlah hikmat-Mu juga menolong kami, supaya setiap kata-kata kami memberikan semangat kepada orang lain untuk mengikuti dan melayani Engkau. Amin.
