Pertolongan Tuhan nyata dalam melahirkan sukacita

Sukacita yang timbul di akhir sebuah proses yang tidak mudah, adalah sukacita yang nikmat. Senikmat tidur pulas sesudah bekerja keras. Tetapi pun sukacita dapat lahir lebih dini. Seperti seorang anak bayi yang tentram menyusu pada ibunya, sukacita model ini ada di awal sebuah perjalanan panjang dalam menyusuri proses kehidupan yang tidak mudah ke depannya.

Dalam perjalanan iman umat Israel, Allah pernah menghadirkan sukacita yang seperti itu. Sewaktu berada di dalam pembuangan, mereka dihiburkan Allah bahwa akan tiba waktunya mereka akan kembali ke kampung halaman. Yerusalem, kota suci kebanggan mereka akan pulih dari reruntuhan. Sebagai umat yang seperti bayi yang baru lahir, Allah akan menolong mereka dengan menghadirkan sukacita di awal perjalanan pemulihan suasana hidup paska pembuangan. 

Pemulihan kota Yerusalem, bukan sekadar dimaknakan secara fisik, tetapi juga sebagai pemulihan relasi antara Allah dengan umat-Nya, dan umat-Nya dengan sesama ciptaan. Tentu sukacita pemberian Allah ini sangat berharga. Sebab menjadi pemicu dan pemacu bagi umat untuk tidak kehilangan pengharapan saat harus memulai sebuah langkah baru mengisi karya kehidupan, di tengah situasi yang masih belum sejahtera.

Potret pertolongan Allah pada masa silam ini, kiranya menghadirkan inspirasi bagi kita hari ini. Sebab kita percaya, kuasa Allah tidak pernah berubah selama-lamanya. Pandemi dan banyak hal berat lainnya dalam hidup kita mungkin saja membuat kita kehilangan sukacita. Tetapi percayalah, Allah akan lahirkan sukacita dalam hidup kita, sekarang ini juga sebagai bekal awal kita melangkah dan memulihkan diri di tengah tatanan kebiasaan baru yang tidak mudah, tetapi yang kita imani selalu ada dalam lingkup pemeliharaan dan pertolongan belas kasihan Allah yang tengah  memberi sukacita yang melegakan hidup kita.

Waktu dan rencana-Mu ya Tuhan, adalah yang terbaik. Kami percaya akan mengalami sukacita karena pertolongan-Mu yang setia. Amin.