Allah menyediakan benih untuk menabur kebaikan

Ada istilah “tabur tuai”. Apa yang kita tabur akan ada yang menuai. Siapa yang menuai? Kelihatannya tergantung dari motivasi orang yang menabur. Biasanya yang akan menuai ialah orang yang menabur juga. Jika orang menabur kebiasaan yang baik untuk membaca, biasanya ia akan menuai ilmu dari yang dibaca. Dan banyak lain contoh sejenis terkait proses yang dijalani demi tujuan akhir yang diharapkan.

Namun tidak selalu apa yang ditabur seseorang, harus serta merta dituai oleh orang itu juga bukan? Dalam hikmat spiritual Kristiani, kesediaan untuk menabur kebaikan biasanya bukan supaya orang yang menabur mendapat tuaian kebaikan juga. Tetapi supaya kebaikan makin dialami oleh sebanyak mungkin orang. Hikmat iman kita mengatakan bahwa Allah Sang Sumber Kebaikan itu, selalu bersedia untuk melipatgandakan benih kebaikan untuk diberikan, sehingga orang yang menabur kebaikan dapat memberi lebih banyak lagi demi yang lain.

Dalam kebijaksanaan yang seperti itu, maka doa kepada Allah bukan sesempit. “Ya Tuhan, berkatilah aku!”, tetapi: “Ya Tuhan, jadikanlah aku jalan berkat-Mu.” Doa ini lahir dari sebuah kesadaran yang tulus, bahwa Allah selalu menyediakan benih bagi setiap anak-Nya yang memohon dengan rindu dan gembira dalam menabur kebaikan.

Kami percaya ya Tuhan, bahwa setiap kebaikan yang kami kerjakan dan bagikan, adalah karena kekuatan yang Tuhan berikan. Amin.